fbpx
was successfully added to your cart.
Category

Uncategorized

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen K3

By | News & Article, Uncategorized | 4 Comments

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Di Perusahaan

Paradigma Baru: 3 Perubahan (Paradigm Shift):
1. Dari pertumbuhan berdasarkan sumber daya menjadi berdasarkan inovasi.
2. Dari kelangkaan sumberdaya menjadi ketidak terbatasan ilmu.
3. Dari kemapanan ilmu menjadi daur manfaat ilmu yang lebih singkat.
Kunci sukses adalah keberlanjutan pembelajaran oleh individu dan perusahaan karena ilmu menjadi basis pertumbuhan.

Efek dari era pasar bebas adalah kesetaraan atau fairness dalam bisnis, tidak ada subsidi & social cost, pemenuhan ketentuan yang berlaku internasional seperti mutu, lingkungan dan keselamatan dan kesehatan kerja. Di tingkat internasional ILO, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak asasi pekerja. Jika tidak memenuhi ketentuan, makan akan ditolak dalam perdagangan internasional. Dengan implementasi K3, maka pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan akan tercipta, sehingga secara otomatis faktor pengendalian risiko pun dapat terlaksana yang akan membuat tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Prinsip-Prinsip Dalam Penerapan SMK3:
1. Prinsip 1 SMK3
Komitmen dan Kebijakan
– Kepemimpinan dan komitmen
– Posisi organisasi K3
– Anggaran, tenaga kerja, sarana
– Personil K3 (Ahli K3 Umum dan Ahli K3 lainnya dalam lingkup tanggung jawab/ wewenang/ kewajiban)
– Koordinasi
– Penilaian kinerja dan tindak lanjut

Tinjauan awal K3 meliputi:
– Bandingkan dengan pedoman
– Identifikasi bahaya
– Pemenuhan (compliance) peraturan
Benchmark
– Sebab/akibat kejadian dan gangguan terhadap K3 yang sebelumnya
– Efisiensi dan efektifitas sumber daya

Kebijakan K3
– Proses konsultasi
– Sosialisasi
– Tinjau ulang

Pada penerapan SMK3, komitmen dan kebijaksanaan dari kepemimpinan sangat penting. Pengusaha dan manajemen perlu segera menetapkan kebijakan K3, organisasi K3, anggaran, personil di Bidang K3 yang mencakup Ahli K3 Umum, Auditor SMK3 dan Ahli K3 lainnya, koordinasi perencanaan K3 dan penilaian kinerja dan tindak lanjut pelaksanaan K3.

Dalam penerapan SMK3, pencegahan merupakan suatu tahap dalam rangkaian sistem tersebut. Di dalam kebijakan yang dibuat akan mencakup pernyataan-pernyataan terkait kepatuhan terhadap Perundangan K3 yang relevan, peraturan yang berkaitan dan kriteria lain yang sifatnya penting, walau bukan aturan hukum, misal standarisasi.

Tinjauan awal Penerapan SMK3:
– Inventarisasi semua peraturan dan standar sesuai dengan operasi perusahaan.
– Inventarisasi pelaksanaan K3 yang telah dilakukan.
– Bandingkan apa yang telah dilaksanakan dengan ketentuan.
– Daftar kesenjangan antara ketentuan dan pelaksanaan.
– Bandingkan kondisi perusahaan dengan PERMENAKER Nomor 05/men/1996.
– Identifikasi sumber bahaya.
– Pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan.
– Bandingkan dengan penerapan K3 yang lebih baik.
– Sebab akibat dari kejadian yang membahayakan.
– Efisiensi dan efektivitas sumber daya.

Pada penerapan SMK3, alat tinjauan awal yang dapat digunakan adalah
– Kuesioner
– Wawancara
– Kepustakaan
– Pemeriksaan dan pengukuran langsung
– Penilaian luar dan dalam
– Peninjauan ulang catatan
– Membandingkan kondisi perusahaan yang sejenis.

2. Prinsip 2 SMK3
Perencanaan yang dibuat perlu efektif dengan sasaran jelas dan dapat diukur, seperti berikut:
– Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian.
– Peraturan perundangan dan syarat lain.
– Tujuan dan sasaran, yaitu dapat diukur, indikator pengukuran yang tepat, sasaran pencapaian dan Jangka waktu pencapaian.
– Indikator kinerja.
– Perencanaan awal dan kegiatan mencakup sistem pertanggungjawaban dan sarana, serta jangka waktu pencapaian.

Pada tahap perencanaan perlu memperhatikan kesenjangan antara keharusan dan pelaksanaan, bandingkan dengan best practice/ benchmarking, rumuskan tujuan dan sasaran, rumuskan indikator kinerja dan rumuskan program. Tidak lupa juga memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Tanggung jawab manajemen terhadap K3 oleh Tim Ahli K3 Umum, manajemen dan seluruh karyawan.
– Identifikasi bahaya dan penilaian risiko.
– Pendokumentasian prosedur K3.
– Inspeksi K3 oleh TIm Ahli K3 Umum dan SMK3.
Pelatihan internal maupun eksternal baik dari seorang Ahli K3 Umum atau lembaga pelatihan.

3. Prinsip 3 SMK3
Dalam penerapannya perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Jaminan kemampuan yang meliputi sumber daya manusia dan dana, integrasi SMK3 dengan perusahaan, tanggung jawab dan tanggung gugat, konsultasi, motivasi dan kesadaran, pelatihan dan kompetensi.
– Kegiatan pendukung yang meliputi komunikasi, pelaporan, pendokumentasian, pengendalian dokumen, pencatatan dan manajemen informasi.
– Identifikasi bahaya atau penilaian dan pengendalian risiko yang meliputi perancangan dan rekayasa, administratif, kontrak, pembelian, prosedur keadaan darurat, insiden dan pemulihan keadaan darurat.
– Jaminan kemampuan yang meliputi kompetensi setiap tingkatan dan pekerjaan, sarana dan dana, prosedur memantau manfaat dan biaya integrasi, sistem manajemen perusahaan yang selaras dan seimbang, serta K3 tidak boleh dibaikan.
– Tanggung jawab dan tanggung gugat (responsibilty dan accountabily) yang meliputi langkah penetapan, dokumentasi dan mengkomunikasikannya, ada prosedur untuk memantau dan mengkomunikasikan dan reaksi cepat bila diperlukan.
– Pengurus yang meliputi tanggung jawab dalam memastikan penerapan yang sesuai dan mengenal kemampuan sumber daya manusia dan pendelegasiannya.
– Komunikasi 2 arah sangat penting untuk memberitahukan hasil peninjauan ulang SMK3, pemantauan dan audit, mengidentifikasi dan menerima informasi K3 yang diperlukan dari luar organisasi dan menjamin bahwa informasi yang berkaitan dapat disebarluaskan kepada orang di luar organisasi yang memerlukan.
– Pelaporan yang meliputi prosedur pelaporan internal, seperti pelaporan kejadian kecelakaan, pelaporan ketidak sesuaian, pelaporan kinerja K3 dan pelaporan identifikasi bahaya. Juga prosedur pelaporan eksternal, yaitu pelaporan yang dipersyaratkan peraturan perundangan dan pelaporan kepada pemegang saham.
– Dokumentasi yang terpelihara dengan adanya prosedur pembuatan dan penyimpanan serta personil yang berhak menerima, serta membuat intisari dokumentasi untuk membandingkan kebijakan, tujuan dan sasaran K3, menjelaskan cara mencapai tujuan K3, mendokumentasikan peranan, tanggung jawab dan prosedur inti, memberikan pengarahan bagi unsur sistem manajemen dan menunjukkan unsur sistem K3 yang sesuai dan telah dilaksanakan.
– Pelatihan dan kompetensi yang meliputi penggunaan standar kompetensi kerja yang telah dibuat, memeriksa uraian tugas dan jabatan, menganalisis tugas kerja, menganalisis hasil inspeksi dan audit, serta meninjau ulang laporan insiden baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

4. Prinsip 4 SMK3
Langkah Pengukuran Dan Evaluasi
– Inspeksi dan pengujian yang meliputi personil (keahlian dan pengalaman), catatan yang terpelihara dan tersedia, peralatan (metode untuk menjamin standar K3), perbaikan segera atas ketidaksesuaian, penyelidikan permasalahan insiden dan temuan yang dianalisis dan ditinjau ulang.
Audit SMK3 baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.
– Perbaikan dan pencegahan.

5. Prinsip 5 SMK3
Tinjauan ulang dan peningkatan melingkupi hal-hal berikut ini:
– Evaluasi terhadap penerapan K3
– Tujuan dan sasaran kinerja K3
– Temuan audit
– Efektifitas penerapan, yaitu perubahan peraturan, tuntutan pihak terkait pasar, perubahan produk dan kegiatan, perubahan struktur organisasi, perkembangan IPTEK, pengalaman insiden, pelaporan dan umpan balik dari tenaga kerja.
.
.

Pelatihan Ahli K3 Umum Accelera Safety

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Penerapan PP Nomor 50 Tahun 2012 Accelera Safety

.

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

IMS/QMS/QHSE Memberikan Gambar Besar Inetgrasi Sistem Untuk Bagaimana Meningkatkan Mutu Perusahaan

By | Uncategorized | No Comments

Manajemen mutu pada rangkaian QHSE (quality, health, safety and environment) memiliki fokus utama yaitu perbaikan proses. Seringnya, banyak variasi dalam suatu proses disebabkan oleh sistem, bukan individu, kerja tim merupakan bagian integral dari manajemen kualitas, kepuasan pelanggan adalah tujuan utama, transformasi organisasi diperlukan, ketakutan harus dihilangkan dari organisasi dan biaya kualitas lebih tinggi lebih sedikit, bukan lebih banyak.

Prinsip Manajemen Mutu:
1. Fokus pelanggan
2. Kepemimpinan
3. Keterlibatan orang
4. Pendekatan proses
5. Pendekatan sistem untuk manajemen
6. Perbaikan terus menerus
7. Pendekatan faktual untuk pengambilan keputusan
8. Hubungan pemasok yang saling menguntungkan

Strategi IMS/QMS terbaik adalah selama semua fase siklus hidup proyek, perhatian utama haruslah kualitas, keamanan dan kinerja lingkungan dari layanan atau produk yang disediakan.

Sistem manajemen berarti apa yang dilakukan organisasi untuk mengelola prosesnya, atau kegiatannya agar produk atau layanannya memenuhi tujuan organisasi, seperti memenuhi persyaratan kualitas pelanggan, mematuhi peraturan, atau memenuhi tujuan lingkungan.

Agar benar-benar efisien dan efektif, organisasi dapat mengelola caranya melakukan sesuatu dengan membuat sistem itu. Tidak ada yang penting yang ditinggalkan. Setiap orang perlu jelas memahami tentang siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan apa, kapan, bagaimana, mengapa dan di mana. Standar sistem manajemen memberi organisasi suatu model internasional yang mutakhir untuk diikuti.

Organisasi besar, atau yang memiliki proses rumit, tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa sistem manajemen. Perusahaan di bidang seperti dirgantara, mobil, pertahanan, atau perangkat perawatan kesehatan telah mengoperasikan sistem manajemen selama bertahun-tahun. Standar sistem manajemen ISO 9001 dan ISO 14001 sekarang membuat praktik sukses ini tersedia untuk semua organisasi.

Baik ISO 9001 dan ISO 14001, keduanya berkonsentrasi pada hal yang menyangkut cara organisasi tersebut menjalankan operasionalny. Mereka bukan standar produk. Mereka bukan standar layanan. Mereka adalah standar proses. Mereka dapat digunakan oleh produsen produk dan penyedia layanan.

Proses mempengaruhi produk atau layanan akhir. ISO 9001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang memengaruhi kualitas produk dan layanannya. ISO 14001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang mempengaruhi dampak kegiatannya terhadap lingkungan.

Manfaat IMS/QMS/QHSE:
1. Konsensus internasional, pakar tentang praktik mutakhir untuk kualitas dan pengelolaan lingkungan.
2. Bahasa umum untuk berurusan dengan pelanggan dan pemasok di seluruh dunia dalam B2B.
3. Tingkatkan efisiensi dan efektivitas.
4. Model untuk perbaikan berkelanjutan.
5. Model untuk memuaskan pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya.
6. Bangun kualitas menjadi produk dan layanan mulai dari desain dan seterusnya.
7. Mengatasi masalah lingkungan dari pelanggan dan publik, dan mematuhi peraturan pemerintah.
8. Integrasikan dengan ekonomi global.
9. Bisnis yang berkelanjutan.
10. Basis pemersatu untuk sektor industri.
11. Pemasok yang memenuhi syarat untuk rantai pasokan global.
12. Dukungan teknis untuk peraturan yang akan diberlakukan di perusahaan atau oragnisasi.
13. Transfer praktik yang baik ke negara-negara berkembang
14. Alat untuk pemain ekonomi baru
15. Integrasi regional
16. Memfasilitasi peningkatan layanan
17. Satu klausa dapat menggambarkan semua persyaratan serupa pada semua sistem manajemen terkait
18. Evaluasi lebih mudah dilakukan, karena satu klausa sudah memiliki semua aspek terkait untuk ditinjau
19. Lebih mudah untuk mengontrol dokumen
20. Setiap orang, terlebih tim Ahli K3 Umum dan SMK3, di dalam perusahaan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kualitas, lingkungan, kesehatan, keselamatan, keamanan dan pengembangan masyarakat.

Pada umumnya, aspek mutu dari IMS/QMS/QHSE akan mengacu pada ISO 9001:2015, aspek lingkungan akan mengacu pada ISO 14001:2015 dan aspek keselamatan dan kesehatan kerja mengacu pada ISO 45001.
Aplikasi dari tiga sistem (IMS/QHSE) tersebut di organisasi seringnya dilakukan secara terpisah yang dapat berdampak pada bertambahnya beban perusahaan selain dapat terjadinya ketidakefisienan pada sistem dokumentasi yang berlaku di oraganisasi tersebut. Di sinilah kita dapat melihat betapa pentingnya pemahaman dan penguasaan terhadap integrasi (QHSE/IMS) dari sistem ISO 9001:2015, ISO 14001:2015 dan ISO 45001, serta penguasaan strategi dan teknik pembuatan berbagai dokumentasinya yang menjadi sangat penting untuk implementasi yang sukses dan berhasil. Pelatihan QHSE/IMS/QHSE ini sangat penting agar tiap individu dapat melihat gambaran besar atau jahitan dari integrasi sistem-sitem tersebut dalam meningkatkan mutu perusahaan.

Pelatihan QHSE SHEQ (quality health safety environment) IMS (integrated management system) Accelera Safety

 

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

error: Content is protected !!
WhatsApp chat