fbpx
was successfully added to your cart.
Category

News & Article

K3 RS Accelera safety MJPRO

PENERAPAN K3 DI RUMAH SAKIT, KLINIK DAN PUSKESMAS

By | News & Article | 662 Comments

Apakah K3 itu? K3 atau keselamatan dan kesehatan kerja adalah upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan bagi tenaga kerja melalui pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang berlandaskan pada identifikasi dan pengendalian bahaya di tempat kerja, yang digemakan melalui promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi. Berdasarkan sumber informasi WHO pada tahun 1995, menagatakan bahwa kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi semua jenis pekerjaan di segala aspek, termasuk di klinik, rumah sakit dan Puskesmas. Pekerjaan dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan bagi tenaga kerja/tenaga kesehatan dan risiko pekerjaan masuk dalam sepuluh urutan terbanyak penyebab penyakit dan kematian. Di rumah sakit, Puskesmas dan klinik yang merupakan tempat pengobatan bagi berbagai individu dengan berbagai macam penyakit menjadi tempat yang memiliki tingkat risiko penyakit dan kecelakaan akhibat kerja yang tinggi. Salah satu bentuk promosi dan memperlengkapi tenaga kesehatan mengenai K3 di rumah sakit adalah dengan memberikan sosialisasi rutin dan Pelatihan K3 Rumah Sakit yang memiliki stadar nasional, dalam hal ini perlu adanya sertifikasi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang, seperti salah satunya Kementerian Ketenagakerjaan (KEMNAKER RI).

Beberapa isu penting yang penting untuk diperhatikan dan segera mendapat tindak lanjut yang serius adalah keselamatan dana kesehatan pasien dan pengunjung, petugas kesehatan, aspek keamanan bangunan dan kesehatan lingkungan. Promosi tentang kesehatan perlu terus ditingkatkan tidak hanya bagi pasien dan pengunjung, tetapi juga bagi tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit, klinik, Puskesmas dan organisasi lainnya yang berhubungan dengan kesehatan seorang individu. Bagi tenaga kesehatan, sangatlah perlu dilakukan pemeriksaan untuk tiga aspek yaitu pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan khusus.

Step SMK3 RS Accelera Safety MJPRO

Gambar 1. Langkah-Langkah Penerapan SMK3

Sama halnya dengan tindakan pemeriksaan bagi pasien, hal-hal berikut ini juga berlaku bagi tenaga kerja/tenaga kesehatan, yaitu:
Suatu proses pelayanan pasien yang aman terdiri dari:
1. Asesmen risiko
2. Identifikasi dan manajemen risiko
3. Pelaporan dan analisis insiden
4. Tindak lanjut dan solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Faktor Bahaya K3 RS Accelera Safety MJPRO

Gambar 2. Faktor Bahaya K3 Di Rumah Sakit

Pada prinsipnya, penerapan K3 di rumah sakit, klinik dan Puskesmas terdiri dari:
1. Bagi rumah sakit: meningkatkan mutu pelayanan dan mempertahankan kelangsungan operasional rumah sakit dan meningkatkan citra rumah sakit.
2. Bagi karyawan rumah sakit: melindungi karyawan dari Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan mencegah terjadinya Kecelakaan Akibat Kerja (KAK)
3. Bagi pasien dan pengunjung: mutu layanan yang baik dan kepuasan pasien dan pengunjung

Pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa SMK3 di rumah sakit, klinik dan Puskesmas wajib memperhatikan lingkungan kerja aman, sehat dan nyaman baik bagi tenaga kerja, pasien, pengunjung ataupun masyarakat di sekitar rumah sakit, klinik, Puskesmas, laboratorium dan tempat-tempat kesehatan lainnya. Pengelolaan K3 di rumah sakit, klinik dan Puskesmas dapat berjalan dengan baik bila ada komitmen pimpinan puncak atau Direktur. Perlu pemahaman, kesadaran dan perhatian yang penuh dari segala pihak yang terlibat di rumah sakit, klinik dan Puskesmas, sehingga apa yang diharapkan terkait aspek-aspek K3 tersebut dapat tercapai.

K3 Rumah Sakit Accelera Safety MJPRO 2020

MENGAPA SERTIFIKASI K3 RUMAH SAKIT?

By | News & Article | 4 Comments

Maksud dari Pembinaan K3 Rumah Sakit dimaksudkan untuk mewujudkan tingkat kesehatan masyarakat yang optimal, sehingga kebutuhan masyarakat akan pelayanan dan bekal kesehatan yang baik, aman, bermutu dan terjangkau oleh seluruh masyarakat dapat terpenuhi. Hal ini dimaksudkan juga untuk melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan akan kejadian yang bisa menimbulkan gangguan dan atau bahaya terhadap kesehatan dan memberikan kemudahan dalam rangka menunjang peningkatan upaya kesehatan, serta meningkatkan mutu pengabdian tenaga kesehatan.

Oleh karena kesehatan masyarakat menjadi prioritas penting dalam skala nasional, maka pemerintah dalam hal ini sebagai payung utama negara dalam mewujudnyatakan kesejahteraan masyarakat, melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan, baik yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga swasta maupun masyarakat. Permerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan sarana kesehtan yang melakukan pelanggaran terhadap koridor terkait kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, baik dalam Undang-Undang tentang kesehatan, Peraturan Menteri dan dokumen negara lainnya.

Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikati Kementerian Ketenagakerjaan RI juga dimaksudkan unutk mencapai tujuan pemerintah bagi kesejahteraan masyarakat sebagimana yang dimaksud di atas. Dengan adanya pelatihan dan sertifikasi bagi oragnaisasi rumah sakit dan tenaga kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas baik dari sisi sarana dan prasarana kesehatan dalam hal ini rumah sakit, klinik dan Puskesmas, maupun juga untuk meningkatakan kompetensi individu tenaga kesehatan di Indonesia. Bagi organisasi kesehatan maupun tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikasi rumah sakit tentu memiliki nilai jual lebih, ada tingkat kepercayaan lebih yang terbangun di benak masyarakat karena sudah adanya standar yang lebih baik yang dimiliki.

Di dalam Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi KEMNAKER RI ini mencakup semua lingkup kesehatan di rumah sakit, klinik maupun Puskesmas. Salah satu poin penting dan utama yang sangat perlu dibahas dan dikuasai adalah sumber daya kesehatan itu sendiri. Sumber daya kesehatan merupakan semua perangkat keras maupun perangkat lunak yang diperlukan sebagai pendukung penyelenggaraan upaya kesehatan yang meliputi tenaga kesehatan, sarana kesehatan, perbekalan kesehatan, pembiayaan kesehatan, pengelolaan kesehatan, penelitian dan pengembangan kesehatan. Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian atau kewenangannya. Tenaga kesehatan memiliki hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesi yang dimilikinya. Sarana kesehatan meliputi balai pengobatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit umum, rumah sakit khusus, praktik dokter, praktik dokter gigi, prkatik dokter spesialis, praktik dokter gigi spesialis, praktik bidan toko obat, apotik, pedagang besar farmasi, pabri obat dan bahan obat, laboratorium, sekolah dan akademi kesehatan, balai pelatihan kesehatan dan sarana kesehatan lainnya.

Oleh sebab penjelasan di atas ini, maka sangatlah penting bagi rumah sakit atau individu tenaga kesehatan atau pekerja lainnya yang bekerja di sarana kesehatan untuk ikut dalam Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi Kementerian Ketenagakerjaan RI. Untuk mendukung terciptanya tujuan kesehatan masyarakat yang baik, maka PJK3 Accelera Safety (PT Mitra Jaya Profita) menyelenggarakan Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi KEMNAKER RI dengn harga yang sangat terjangkau dengan kualitas dan manfaat lebih yang sangat baik sesuai standar pemerintah. Ini merupakan komitmen kami dalam membangun budaya K3 di seluruh lingkungan kerja di Indonesia.

K3 RS 2020 FB Accelera Safety MJPRO

PRINSIP PENERAPAN K3 DI RUMAH SAKIT

By | News & Article | 667 Comments

Rumah sakit, selain menjadi tempat perawatan bagi orang-orang memerlukan tindakan medis juga menjadi tempat berkegiatan atau bekerja bagi para tenaga kesehatan yang dalam setiap kegiatannya wajib menyediakan fasilitas dan kondisi yang aman, berfungsi dan mendukung bagi pasien, keluarga, pekerja dan pengunjung. Dalam mencapai tujuan tersebut, maka fasilitas yang bersifat fisik, segala peraltan medis, hingga peralatan dan perlengkapan lainnya harus dikelola dan dirawat secara maksimal dan efektif. Dalam hal ini secara khusus manajemen rumah sakit sangat perlu berupaya keras untuk mengurangi dan mengendalikan bahaya dan risiko, mencegah terjadinya kecelakaan dan cidera, serta menciptakan dan mempertahankan kondisi yang aman dan selamat.

Manajemen rumah sakit yang efektif dan efisien mampu melibatkan multi-disiplin ilmu dalam perencanaan, pendidikan dan pemantauan untuk mencapai tujuannya. Dari pimpinan rumah sakit merencanakan ruangan, peralatan, sumber daya dan fasilitas penunjuang lainnya yang bersifat aman dan efektif yang dibutuhkan rumah sakit untuk menunjang pelayanan klinis yang diberikan. Tidak hanya pimpinan, seluruh staf dipersiapkan secara fisik dan mental tentang fasilitas, cara menangani dan mengurangi risiko, serta cara bagaimana memonitor dan melaporkan situasi yang dapat menimbulkan risiko. Kriteria atau parameter kinerja digunakan untuk mengevaluasi sistem yang penting dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan demi mencapai tujuan rumah sakit yang sesungguhnya.

Oleh sebab penjelasan di atas, maka keselamatan dan kesehatan kerja, terlebih khusus kesehatan kerja di rumah sakit sudahlah semestinya menjadi parameter utama yang perlu segera diterapkan dan di manajemen dengan maksimal dan efektif. Sangatlah penting untuk pimpinan hingga seluruh tenaga kesahatan maupun pekerja memiliki komitmen yang tinggi dalam hal ini. K3 bukanlah hal sepele di dalam kehidupan suatu organisasi, terlebih lagi rumah sakit. K3 Rumah Sakit merupakan faktor penting yang sifatnya perlu segera diterapkan.

Di dalam pelaksanaannya, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di rumah sakit perlu dibuatkan sistem manajemen yang baik agar menjadi suatu rangkain atau jahitan yang tersistematis dan terlaksana secara maksimal. Sistem Manajemen K3 Rumah Sakit (SMK3RS) meliputi penetapan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan rencana, pemantauan (monitoring) dan evaluasi kinerja dan peninjauan serta peningkatan kinerja K3 Rumah Sakit. Semua parameter-parameter K3 ini wajib dituangkan dalam dokumen tertulis dengan dukungan keputusan kepala atau direktur di suatu rumah sakit dengan kebijakan K3 rumah sakit yang meliputi penetapan kebijakan dan tujuan dari program K3, penetepan organisasi K3 dan penetapan dukungan pendanaan, sarana dan prasarananya.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman, kesadaran, kemampuan dan keterampilan, pertama-tama bagi pelaksana K3 di rumah sakit dan individu lainnya yang terkait, termasuk pengunjung, maka perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan yang memliki standar yang baik terkait K3 Rumah Skait (K3 RS) bagi sumber daya tenaga kesehatan, terutama sumber daya K3 RS. Setelah diperlengkapi dengan pengetahuan K3 Rumah Sakit, makan gaung K3 ini perlu terus digemakan di lingkungan rumah sakit, baik berupa sosialisasi, promosi suara maupun tulisan dan upaya-upaya lain yang efektif dan efisien. Selain itu, pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan K3 Rumah Sakit dilakukan secara terintegrasi dengan sistem informasi manajemen yang baik di rumah sakit. Pencatatan dan pelaporan yang dimaksudkan tersebut dapat dilakukan secara bulanan maupun tahunan.

Adapun pencatatan dan pelaporan yang dimaksudkan tersebut, dalam hal ini yang sifatnya bulanan meliputi insiden penyakit menular, insiden penyakit tidak menular, insiden kecelakaan akhibat kerja (KAK) dan insiden penyakit akhibat kerja (PAK). Sedangkan pencatatan dan pelaporan K3 Rumah Sakit yang sifatnya tahunan meliputi penyelenggaraan kegiatan K3 Rumah Sakit (K3 RS) yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun.

Semua prinsip atau parameter yang tertuang dalam artikel ini telah dirangkum dalam Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi Kemneterian Ketenagakerjaan RI yang dilaksanakan oleh PJK3 Accelera Safety – PT Mitra Jaya Profita, yang mana pelatihan ini berlangsung selama empat hari dengan mengutamakan praktik lapangan yang dapat membantu tiap peserta untuk dapat memahami K3 Rumah Sakit secara menyeluruh.

Spanduk K3 RS Accelera Safety MJPRO

Upaya-Upaya Kesehatan Bagi Masyarakat

By | News & Article | 675 Comments

Dalam mewujudnyatakankan tingkat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, yang mana kita tahu bahwa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hak asasi manusia (HAM), maka perlu dilakukan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh PJK3 Accelera Safety – PT Mitra Jaya Profita melalui Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi KEMNAKER RI.

Rumah sakit adalah tempat kerja yang mempunyai risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan bagi tenaga kesehatan maupun individu-individu lain, baik di dalam maupun di sekitar rumah sakit, seperti pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan yang berada di sekitar rumah sakit. Oleh sebab itu, pengelolaan dan pengendalian risiko yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit sangat penting untuk diselenggarakan di wilayah rumah sakit agar dpaat tercipta kondisi rumah sakit dan sekelilingnya yang sehat, aman, selamat dan nyaman.

Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari pekerja atau tenaga kesehatan tidak terkecuali di rumah sakit maupun perkantoran akan berhadapan dengan risiko bahaya di tempat kerjanya. Risiko yang dihadapi tentu sangat bervariasi, yaitu mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat, yang mana tergantung dari jenis pekerjaan si tenaga kesehatan tersebut. Ada beberapa hal penting yang wajib diperhatikan sehubungan dengan pelaksanaan K3 di rumah sakit, di mana pada dasarnya harus memperhatikan dua aspek, yaitu di dalam dan luar ruangan. Berikut uraian kedua aspek tersebut:
– Konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaannya.
– Jaringan elektrik dan komunikasi
– Kualitas udara
– Kualitas pencahayaan
– Kebisingan
– Display unit (tata ruang dan alat)
– Hygiene dan sanitasi
– Psikososial
– Pemeliharaan
– penggunaan komputer

Kecelakaan akibat kerja (KAK) dan penyakit akibat kerja (PAK) adalah risiko yang harus diamati dan dianalisis. Hasil analisa risiko berupa data dan informasi digunakan sebagai umpan balik dan dikomunikasikan untuk kepentingan pengambilan keputusan. KAK dan PAK merupakan akibat dari suatu tindakan atau perilaku yang tidak aman terkait keberadaan potensi sumber bahaya (hazard) dan lingkungan kerja. Analisis risiko dapat dilakukan melalui observasi mendalam dan observasi partisipan, dengan bantuan alat ukur checklist atau kuisioner. Keluaran dari konsep ini adalah perilaku selamat dan sehat yang dinilai dalam rentang waktu tertentu disebut sebagai performansi K3. Dampak dari peningkatan performansi kerja adalah pelayanan pelanggan, keselamatan pasien dan produktivitas kerja rumah sakit menjadi lebih berkualitas. (Ketut Ima Ismara)

Oleh sebab itu, sangatlah perlu diselenggarakan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, Pasal 10 tentang kesehtan, yang mana dilaksanakan melalui kegiatan:
– Kesehatan keluarga;
– Perbaikan gizi;
– Pengamanan makanan dan minuman;
– Kesehatan lingkungan;
Kesehatan kerja;
– Kesehatan jiwa;
– Pemberantasan penyakit;
– Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan;
– Penyuluhan kesehatan masyarakat;
– Pengamanan ketersediaan farmasi dan alat kesehatan;
– Pengamanan zat adiktif;
– Kesehatan sekolah;
– Kesehatan olahraga;
– Pengobatan tradisional;
– kesehatan mata.

Penyelenggaraan upaya-upaya di atas didukung dan dipelopori oleh sumber daya kesehatan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi lebih mendalam tentang kesehatan yang terangkum dalam Sistem Manajemen K3 (SMK3)

K3 Rumah Sakit Accelera Safety MJPRO 2020

Sertifikasi K3 Rumah Sakit Oleh PJK3 Accelera Safety MJPRO

By | News & Article

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 3 bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, maka PJK3 Accelera Safety (PT Mitra Jaya Profita) dengan Nomor SKP KEP. 389/BINWASK3-PNK3/KK/IV/2019 terus berkomitmen untuk membangun budaya K3 di kalangan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik, PUSKESMAS dan di seluruh tempat kerja lainnya. Pada Tanggal 23 -25 Januari 2020 lalu, telah berhasil dilaksanakan Sertifikasi KEMNAKER RI K3 Rumah Sakit di Yogyakarta, yang mana sertifikasi tersebut berpeserta dari banyak latar belakang tempat kerja, baik klinik maupun rumah sakit dari berbagai wilayah di Indonesia.

Mengapa perlu mengikuti sertifikasi ini? Karena setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal dan Pasal 3Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal dan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal dan setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perseorangan, keluarga dan lingkungannya.

Adapun materi yang dipelajari pada Sertifikasi KEMNAKER RI K3 Rumah Sakit ini adalah
Pre test
– Peraturan Perundangan dan Dasar K3 di Rumah Sakit
– Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit
– Infeksi Nosokomial
– Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja serta Cara Pelaporannya
– Pengelolaan Prasarana dan Sarana di Rumah Sakit dari Aspek K3
– K3 Laboratorium dan K3 Radiologi di Rumah Sakit
– Pengelolaan Peralatan Medis dari Aspek K3
– Keselamatan dan Keamanan di Rumah Sakit
– Pengelolaan B3 dari Aspek K3 dan Sanitasi Penanganan Limbah Medis di Rumah Sakit
– Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran di Rumah Sakit
– Kesiapsiagaan menghadapi Kondisi Darurat atau Bencana di Rumah Sakit
– Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Rumah Sakit
– Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Rumah Sakit
– Praktek Kunjungan Lapangan (PKL) dan Laporan
– Evaluasi dan Ujian

Rumah Sakit selain bertujuan menjadi tempat tempat proses kesembuhan bagi orang yang membutuhkan perawatan dengan bermacam-macam penyakit yang dideritanya, juga melingkupi banyak aspek dalam mencapai tujuannya. Rumah sakit sudahlah semestinya memeliki Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang melingkupi baik secara kesehatan kerja bagi tenaga kerjanya dan keamanan bagi seluruh individu yang berada di rumah sakit, baik dari sisi kegawatdaruratan, penanggulangan bencana alam, penanggulangan kebakaran, pengelolaan limbah, perawatan peralatan medis dan sistem kerja yang benar. Untuk itulah pentingnya Pelatihan K3 Rumah Sakit Sertifikasi KEMNAKER RI ini. Oleh sebab itu, bagi seluruh tenaga kesehatan bersegeralah daftarkan diri Anda di sertifikasi ini.

Untuk melihat bagaimana kegiatan Sertifikasi K3 Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh PJK3 Accelera Safety – PT Mitra Jaya Profita, silakan klik tautan Facebook kami di bawah ini.
Pelatihan & Sertifikasi KEMNAKER RI K3 Rumah Sakit

 

Salam Kesehatan Kerja!

K3 Rumah Sakit Accelera Safety MJPRO 2020 Yogyakarta

Apakah Sertifikasi K3 Rumah Sakit KEMNAKER RI Itu?

By | News & Article | 648 Comments

Apakah keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit atau yang sering kita sebut dengan sebutan K3 Rumah Sakit itu?

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kita perlu menyadari bahwa rumah sakit juga merupakan tempat kerja bagi tenaga kerja rumah sakit. selain memperhatikan kesehatan pasien sebagaimana tujuan utama dari rumah sakit itu sendiri, perlu juga diperhatikan kesehatan para pekerja rumah sakit, baik itu dokter, suster, mantri, paramedis, dan karyawan tetap lainnya, namun juga termasuk di dalamnya adalah pekerja yang bersifat non karyawan rumah sakit, seperti tenaga kerja dari vendor, baik mekanik peraltan rumah sakit yang melakukan j=kunjungan perawtan alat, tukang yang bekerja di rumah sakit, tukang parkir dan individu-individu lainnya yang berkepentingan di rumah sakit, termasuk pengunjung dan orang-orang yang menjenguk pasien.

Rumah sakit justru menjadi sangat kompleks aspek K3-nya karena menyangkut banyak aspek. Selain itu, limbah rumah sakit juga merupakan salah satu aspek yang wajib dalam pantaun K3. Sebegitu kompleksnya sehingga sistem manajemen K3 rumah sakit haruslah benar-benar diperhatikan dan diwujudkan.

Upaya kesehatan merupakan setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Tenaga kerja kesehatan merupakan setiap orang yang mengabdi dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Mengingat pentingnya kesehatan bagi tenaga kerja di rumah sakit, oleh sebab itu pemerintah bersama-sama dengan PJK3 Accelera Safety (PT Mitra Jaya Profita) terus menerus meningkatkan pertumbuhan budaya K3 dengan salah satunya melalui Pelatihan K3 berbasis kompetensi dan bersifat sertifikasi dari KEMNAKER RI yang bertujuan untuk terus memperlengkapi, baik rumah sakit, terlebih lagi tenaga kesehatan secara individu untuk sungguh-sungguh menguasai dan berbudaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerjanya.

Sistem Manajemen K3 di rumah sakit haruslah dibuat dan dilakukan dengan maksimal sesuai kapasitas rumah sakit tersebut yang mengacu pada Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah terkait K3, seperti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan.

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen K3

By | News & Article, Uncategorized | 4 Comments

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Di Perusahaan

Paradigma Baru: 3 Perubahan (Paradigm Shift):
1. Dari pertumbuhan berdasarkan sumber daya menjadi berdasarkan inovasi.
2. Dari kelangkaan sumberdaya menjadi ketidak terbatasan ilmu.
3. Dari kemapanan ilmu menjadi daur manfaat ilmu yang lebih singkat.
Kunci sukses adalah keberlanjutan pembelajaran oleh individu dan perusahaan karena ilmu menjadi basis pertumbuhan.

Efek dari era pasar bebas adalah kesetaraan atau fairness dalam bisnis, tidak ada subsidi & social cost, pemenuhan ketentuan yang berlaku internasional seperti mutu, lingkungan dan keselamatan dan kesehatan kerja. Di tingkat internasional ILO, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak asasi pekerja. Jika tidak memenuhi ketentuan, makan akan ditolak dalam perdagangan internasional. Dengan implementasi K3, maka pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan akan tercipta, sehingga secara otomatis faktor pengendalian risiko pun dapat terlaksana yang akan membuat tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Prinsip-Prinsip Dalam Penerapan SMK3:
1. Prinsip 1 SMK3
Komitmen dan Kebijakan
– Kepemimpinan dan komitmen
– Posisi organisasi K3
– Anggaran, tenaga kerja, sarana
– Personil K3 (Ahli K3 Umum dan Ahli K3 lainnya dalam lingkup tanggung jawab/ wewenang/ kewajiban)
– Koordinasi
– Penilaian kinerja dan tindak lanjut

Tinjauan awal K3 meliputi:
– Bandingkan dengan pedoman
– Identifikasi bahaya
– Pemenuhan (compliance) peraturan
Benchmark
– Sebab/akibat kejadian dan gangguan terhadap K3 yang sebelumnya
– Efisiensi dan efektifitas sumber daya

Kebijakan K3
– Proses konsultasi
– Sosialisasi
– Tinjau ulang

Pada penerapan SMK3, komitmen dan kebijaksanaan dari kepemimpinan sangat penting. Pengusaha dan manajemen perlu segera menetapkan kebijakan K3, organisasi K3, anggaran, personil di Bidang K3 yang mencakup Ahli K3 Umum, Auditor SMK3 dan Ahli K3 lainnya, koordinasi perencanaan K3 dan penilaian kinerja dan tindak lanjut pelaksanaan K3.

Dalam penerapan SMK3, pencegahan merupakan suatu tahap dalam rangkaian sistem tersebut. Di dalam kebijakan yang dibuat akan mencakup pernyataan-pernyataan terkait kepatuhan terhadap Perundangan K3 yang relevan, peraturan yang berkaitan dan kriteria lain yang sifatnya penting, walau bukan aturan hukum, misal standarisasi.

Tinjauan awal Penerapan SMK3:
– Inventarisasi semua peraturan dan standar sesuai dengan operasi perusahaan.
– Inventarisasi pelaksanaan K3 yang telah dilakukan.
– Bandingkan apa yang telah dilaksanakan dengan ketentuan.
– Daftar kesenjangan antara ketentuan dan pelaksanaan.
– Bandingkan kondisi perusahaan dengan PERMENAKER Nomor 05/men/1996.
– Identifikasi sumber bahaya.
– Pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan.
– Bandingkan dengan penerapan K3 yang lebih baik.
– Sebab akibat dari kejadian yang membahayakan.
– Efisiensi dan efektivitas sumber daya.

Pada penerapan SMK3, alat tinjauan awal yang dapat digunakan adalah
– Kuesioner
– Wawancara
– Kepustakaan
– Pemeriksaan dan pengukuran langsung
– Penilaian luar dan dalam
– Peninjauan ulang catatan
– Membandingkan kondisi perusahaan yang sejenis.

2. Prinsip 2 SMK3
Perencanaan yang dibuat perlu efektif dengan sasaran jelas dan dapat diukur, seperti berikut:
– Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian.
– Peraturan perundangan dan syarat lain.
– Tujuan dan sasaran, yaitu dapat diukur, indikator pengukuran yang tepat, sasaran pencapaian dan Jangka waktu pencapaian.
– Indikator kinerja.
– Perencanaan awal dan kegiatan mencakup sistem pertanggungjawaban dan sarana, serta jangka waktu pencapaian.

Pada tahap perencanaan perlu memperhatikan kesenjangan antara keharusan dan pelaksanaan, bandingkan dengan best practice/ benchmarking, rumuskan tujuan dan sasaran, rumuskan indikator kinerja dan rumuskan program. Tidak lupa juga memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Tanggung jawab manajemen terhadap K3 oleh Tim Ahli K3 Umum, manajemen dan seluruh karyawan.
– Identifikasi bahaya dan penilaian risiko.
– Pendokumentasian prosedur K3.
– Inspeksi K3 oleh TIm Ahli K3 Umum dan SMK3.
Pelatihan internal maupun eksternal baik dari seorang Ahli K3 Umum atau lembaga pelatihan.

3. Prinsip 3 SMK3
Dalam penerapannya perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Jaminan kemampuan yang meliputi sumber daya manusia dan dana, integrasi SMK3 dengan perusahaan, tanggung jawab dan tanggung gugat, konsultasi, motivasi dan kesadaran, pelatihan dan kompetensi.
– Kegiatan pendukung yang meliputi komunikasi, pelaporan, pendokumentasian, pengendalian dokumen, pencatatan dan manajemen informasi.
– Identifikasi bahaya atau penilaian dan pengendalian risiko yang meliputi perancangan dan rekayasa, administratif, kontrak, pembelian, prosedur keadaan darurat, insiden dan pemulihan keadaan darurat.
– Jaminan kemampuan yang meliputi kompetensi setiap tingkatan dan pekerjaan, sarana dan dana, prosedur memantau manfaat dan biaya integrasi, sistem manajemen perusahaan yang selaras dan seimbang, serta K3 tidak boleh dibaikan.
– Tanggung jawab dan tanggung gugat (responsibilty dan accountabily) yang meliputi langkah penetapan, dokumentasi dan mengkomunikasikannya, ada prosedur untuk memantau dan mengkomunikasikan dan reaksi cepat bila diperlukan.
– Pengurus yang meliputi tanggung jawab dalam memastikan penerapan yang sesuai dan mengenal kemampuan sumber daya manusia dan pendelegasiannya.
– Komunikasi 2 arah sangat penting untuk memberitahukan hasil peninjauan ulang SMK3, pemantauan dan audit, mengidentifikasi dan menerima informasi K3 yang diperlukan dari luar organisasi dan menjamin bahwa informasi yang berkaitan dapat disebarluaskan kepada orang di luar organisasi yang memerlukan.
– Pelaporan yang meliputi prosedur pelaporan internal, seperti pelaporan kejadian kecelakaan, pelaporan ketidak sesuaian, pelaporan kinerja K3 dan pelaporan identifikasi bahaya. Juga prosedur pelaporan eksternal, yaitu pelaporan yang dipersyaratkan peraturan perundangan dan pelaporan kepada pemegang saham.
– Dokumentasi yang terpelihara dengan adanya prosedur pembuatan dan penyimpanan serta personil yang berhak menerima, serta membuat intisari dokumentasi untuk membandingkan kebijakan, tujuan dan sasaran K3, menjelaskan cara mencapai tujuan K3, mendokumentasikan peranan, tanggung jawab dan prosedur inti, memberikan pengarahan bagi unsur sistem manajemen dan menunjukkan unsur sistem K3 yang sesuai dan telah dilaksanakan.
– Pelatihan dan kompetensi yang meliputi penggunaan standar kompetensi kerja yang telah dibuat, memeriksa uraian tugas dan jabatan, menganalisis tugas kerja, menganalisis hasil inspeksi dan audit, serta meninjau ulang laporan insiden baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

4. Prinsip 4 SMK3
Langkah Pengukuran Dan Evaluasi
– Inspeksi dan pengujian yang meliputi personil (keahlian dan pengalaman), catatan yang terpelihara dan tersedia, peralatan (metode untuk menjamin standar K3), perbaikan segera atas ketidaksesuaian, penyelidikan permasalahan insiden dan temuan yang dianalisis dan ditinjau ulang.
Audit SMK3 baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.
– Perbaikan dan pencegahan.

5. Prinsip 5 SMK3
Tinjauan ulang dan peningkatan melingkupi hal-hal berikut ini:
– Evaluasi terhadap penerapan K3
– Tujuan dan sasaran kinerja K3
– Temuan audit
– Efektifitas penerapan, yaitu perubahan peraturan, tuntutan pihak terkait pasar, perubahan produk dan kegiatan, perubahan struktur organisasi, perkembangan IPTEK, pengalaman insiden, pelaporan dan umpan balik dari tenaga kerja.
.
.

Pelatihan Ahli K3 Umum Accelera Safety

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Penerapan PP Nomor 50 Tahun 2012 Accelera Safety

.

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

Sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U) KEMNAKER RI

By | News & Article | No Comments

Sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U) KEMNAKER RI

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI merupakan pelatihan dan sertifikasi yang dimaksudkan untuk memperlengkapi tiap-tiap individu untuk memahami lingkup K3 secara umum baik bagi kepentingan individu tersebut maupun untuk keperluan perusahaan dalam membangun budaya K3 di tiap sisi Negera Indonesia.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini tidak dimaksudkan untuk seseorang dapat dengan mudah untuk hanya sekedar mecari pekerjaan, walaupun memang salah satunya merupakan syarat bekerja di tiap industri untuk divisi HSE. Pemerintah juga memang mewajibkan untuk perusahaan memiliki setidak-tidaknya satu orang Ahli K3 Umum dan membentuk PPK3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker RI Nomor PER.04/MEN/1987 di perusahaan atau organisasi yang telah memiliki setidaknya seratus (100) karyawan atau jika perusahaan tersebut memiliki potensi bahaya yang besar. Hal ini pun semata-mata dibuat untuk membangun budaya K3 di tempat kerja yang besar harapannya menjadi budaya di tiap keluarga hingga skala nasional.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970, dengan majunya industrialisasi, mekanisasi, elektrifikasi dan modernisasi, maka dalam kebanyakan hal berlangsung pulalah peningkatan intensitas kerja operasional dan tempo kerja para pekerja. Hal-hal ini memerlukan pengerahan tenaga secara intensif pula dari para pekerja. Kelelahan, kurang perhatian akan hal-hal lain, kehilangan keseimbangan dan lain-lain merupakan akibat dari padanya dan menjadi sebab terjadinya kecelakaan. Bahan-bahan yang mengandung racun, mesin-mesin, alat-alat, pesawat-pesawat dan sebagainya yang serba pelik serta cara-cara kerja yang buruk, kekurangan ketrampilan dan latihan kerja, tidak adanya pengetahuan tentang sumber bahaya yang baru, senantiasa merupakan sumber-sumber bahaya dan penyakit-penyakit akibat kerja. Oleh sebab itu dapatlah difahami perlu adanya pengetahuan keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang maju dan tepat.

Selanjutnya dengan peraturan yang relevan akan dicapai keamanan yang baik dan realistis yang merupakan faktor sangat penting dalam memberikan rasa tentram, kegiatan dan kegairahan bekerja pada tenaga-kerja yang bersangkutan dan hal ini dapat meningkatkan mutu pekerjaan, meningkatkan produksi dan produktifitas kerja. Di sini kita dapat memahami bahwa keselatan dan kesehatan seseorang dalam bekerja adalah hal yang sangat penting karena keselamatan dan kesehatan kerja adalah hak asasi tiap orang.

Dari penjelasan di atas, dapatlah kita memahami pentingnya pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini. Hal ini berbicara tentang hal yang besar, lingkup yang menyeluruh, sehingga dapat menciptakan sistem integrasi yang lebih baik bagi banyak orang.

Adapun tujuan Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini adalah untuk memperlengkapi seorang Ahli K3 Umum agar mampu:

  • Menjelaskan tugas, wewenang dan tanggung jawab Ahli K3 Umum
  • Menjelaskan hak pekerja dalam bidang K3
  • Menjelaskan kepada pengusaha bahwa upaya K3 menguntungkan bagi perusahaan
  • Menjelaskan tujuan sistem manajemen K3 (SMK3)
  • Menjelaskan sistem pelaporan kecelakaan
  • Menganalisa kasus kecelakaan, mengetahui faktor penyebabnya dan dapat menyiapkan laporan kecelakaan kepada pihak terkait
  • Mengenal P2K3, tugas, tanggung jawab dan wewenang organisasi ini
  • Mengenal pembinaan dan pengawasan K3 di tingkat perusahaan, Nasional dan Internasional
  • Mengidentifikasi objek Pengawasan K3
  • Mengetahui Persyaratan dan pemenuhan tehadap peraturan perundangan di tempat kerja
  • Mengetahui persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
  • Mengetahui proses audit dan ruang lingkupnya untuk mengukur tingkat pencapaian

Ahli K3 umum di perusahaan dan di manapun dirinya berada merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah dalam mengawasi pekerjaan dan membangun budaya K3 agar sesuai dengan persyaratan perundang-undangan yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga dapat mengurangi risiko dan insiden, baik itu kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Setelah lulus dari sertifikasi ini individu akan memiliki wewenang yang telah diakui secara legal untuk menjadi Ahli K3 Umum di tempat kerjanya.

Untuk itu, mari segera daftarkan diri Anda untuk mengkuti Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI dan selanjutnya Anda dapat mengambil pelatihan kompetensi spesialis bidang Audit SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI.

Pelatihan Ahli K3 Umum Accelera Safety

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

 

Manajemen Risiko Di Perusahaan Atau Organisasi

By | News & Article | No Comments

Tujuan dari manajemen risiko adalah memberikan informasi berkaitan dengan kegiatan yang ada dalam manajemen risiko sesuai dengan tahapan-tahapannya yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

Sasaran manajemen risiko adalah
1. Menjelaskan pengertian dari manajemen risiko.
2. Menyebutkan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam manajemen risiko.
3. Melaksanakan kegiatan manajemen risiko di tempat kerja.
4. Mengendalikan risiko di tempat kerja dengan menggunakan prinsip manajemen risiko.

Secara umum manajemen risiko meliputi beberapa hal berikut ini:
1. SMK3 adalah suatu sistim manajemen dengan pendekatan berbasis pada manajemen/ pengendalian risiko.
2. Menerapkan SMK3 sama dengan mengurangi risiko di tempat kerja, yang mana biaya yang akan muncul akibat dari kecelakaan dan PAK, termasuk jamsostek, biaya medis, dan hilangnya produktifitas dapat dikurangi.
3. Banyak metode penilaian risiko (risk assesment) yang di kembangkan oleh berbagai organisasi/ perusahaan dan berbagai negara. Konsep terbaru penilaian risiko adalah ISO 31000.
4. Pada materi ini akan diberikan keterampilan melakukan penilaian risiko berdasarkan pada metode yang dikembangkan oleh Kemenakertrans yaitu Penilaian Risiko Lingkungan Kerja.

Pengertian istilah-istilah yang ada pada lingkup manajemen risiko, yaitu:
1. Aktifitas, yaitu proses atau sekumpulan proses yang dilakukan oleh suatu organisasi yang menghasilkan atau mendukung satu atau lebih produk atau jasa.
2. Identifikasi risiko (risk identification) yaitu proses untuk menemukan, mengenali dan mendeskripsikan risiko. Identifikasi risiko terdiri dari identifikasi sumber-sumber risiko, kejadian-kejadian, penyebab dan potensi konsekuensinya.
3. Identifikasi risiko dapat melibatkan data histori, analisis secara teori, opini ahli, dan kebutuhan stakeholders.
4. Kejadian (event) yaitu muncul atau berubahnya sekumpulan hal tertentu. Satu kejadian bisa berupa satu atau lebih kemunculan, dan bisa mempunyai beberapa sebab. Kejadian disebut juga sebagai insiden atau kecelakaan. Kejadian yang tidak mempunyai konsekuensi disebut sebagai ‘near miss’, ‘insident’, atau ‘close call’, ‘ hampir kena’.
5. Konsekuensi, yaitu hasil dari suatu kejadian yang berpengaruh pada tujuan berdasarkan ISO 31000:2015. Suatu kejadian dapat menyebabkan konsekuensi yang beragam. Konsekuensi dapat dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif. Konsekuensi bisa tertentu atau tidak-tentu dan dapat mempunyai efek positif atau negatif terhadap tujuan.
6. Penilaian risiko (risk analysis) yatiu proses memahami secara menyeluruh sifat dari risiko dan untuk menentukan tingkat risiko berdasarkan ISO 31000:2015. Penilaian risiko termasuk dalam mengestimasi risiko.
7. Peluang (likelihood) yaitu kemungkinan terjadinya sesuatu berdasarkan ISO 31000. Peluang (likelihood) bisa subjektif atau objektif, kualitatif atau kuantitatif.
8. Rating risiko, yaitu notasi huruf yang mencerminkan risiko yang ada dalam satu kelompok pekerja, perusahaan, badan usaha atau lembaga.
9. Risiko, yaitu kombinasi dari konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan peluang terjadinya kejadian tersebut berdasarkan OHSAS 18001-2007. Akibat (efek) dari ketidakpastian terhadap tujuan berdasarkan ISO 31000:20015. Ketidakpastian adalah keadaan dimana kekurangan informasi terkait, pemahaman atau pengetahuan dari suatu kejadian, konsekuensinya atau kemungkinannya.
10. Hazard atau sumber risiko, yaitu sumber, situasi, atau tindakan yang berpotensi mencederai badan atau mengganggu kesehatan manusia berdasarkan OHSAS 18001-2007. Elemen yang dapat berdiri sendiri atau merupakan kombinasinya yang berpotensi untuk terjadinya risiko berdasarkan ISO 31000:2009.
11. Manajemen Risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan akitivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review (peninjauan ulang) terhadap risiko.

Siapakah yang melakukan penilaian risiko?
Penilaian risiko dapat dilakukan antara lain oleh:
1. Pengawas ketenagakerjaan,
2. Manager atau supervisor atau ahli K3 Umum atau Auditor SMK3 di perusahaan yang bersangkutan,
3. Pihak ketiga yang memahami memahami MSDS/Label/informasi tempat kerja.

Adapun kualifikasi yang melakukan penilaian risiko adalah mereka perlu memahami peraturan perundang-undangan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan memiliki keahlian di bidang K3 seperti Ahli K3 Umum dan Audit SMK3.

Pemantapan Konteks Manajemen Risiko:
Konteks Strategi, yaitu penilaian internal dan eksternal unit
Konteks Organisasi, yaitu penilaian terhadap manajemen dan organisasi yang mana manajemen terlibat dalam pengambilan keputusan, terkait dengan kebijakan organisasi secara keseluruhan dan terkait dengan alokasi sumber daya, seperti personil, finansial, dan lain-lain.
Konteks Pengelolaan Risiko , yaitu penilaian terhadap ruang lingkup yg lebih besar hingga pemerintah.

Identifikasi Bahaya
Tahap pertama dalam kegiatan manajemen risiko di mana kita melakukan identifikasi bahaya yang terdapat dalam suatu kegiatan atau proses. Ada tiga pertanyaan yang dapat dipakai sebagai panduan:
1. Apakah ada sumber untuk menimbulkan cidera/loss?
2. Target apa saja yang terkena/terpengaruh bahaya?
3. Bagaimana mekanisme cidera/loss dapat timbul?

Pertanyaan lainnya adalah apakah ada sumber untuk menimbulkan cidera? Sumber bahaya ditempat kerja dapat berasal dari:
1. Bahan / material
2. Alat/mesin
3. Metode kerja
4. Lingkungan kerja

Jenis-Jenis Bahaya dan Risiko:
1. Fisika, seperti bising, radiasi, laser, cahaya dan lain-lain.
2. Kimia, seperti bahan-bahan kimia, limbah B3 dan lain-lain.
3. Ergonomi, seperti sistem kerja, angkat barang dan lain-lain.
4. Psikososial, seperti stress, kerja shift dan lain-lain.
5. Biologi, seperti serangga, bakteri, virus dan lain-lain.

Identifikasi Bahaya
Terget yang mungkin terkena atau terpengaruh sumber bahaya:
1. Manusia
2. Produk
3. Peralatan atau fasilitas
4. Lingkungan
5. Proses
6. Reputasi
7. Manusia
8. Dan target lainnya.

Teknik Identifikasi Bahaya
Banyak alat bantu yang dapat digunakan oleh Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3 atau yang diberi kewenangan untuk mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. Beberapa metode atau teknik tersebut adalah
1. Inspeksi
2. Pemantauan/survey
3. Audit
4. Kuesioner
5. Data-data statistik

Analisa dan Penilaian Risiko
Peluang (probability) yaitu kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan/kerugian ketika terpajan dengan suatu bahaya, seperti:
1. Peluang orang jatuh karena melewati jalan licin.
2. Peluang untuk tertusuk jarum.
3. Peluang tersengat listrik.
4. Peluang supir menabrak.

Langkah-Langkah Penilaian Risiko:
1. Langkah 1: Menemukan bahaya.
2. Langkah 2: Menentukan siapa yang bakal terkena risiko dan bagaimana.
3. Langkah 3: Melakukan evaluasi risiko dan menetapkan apakah kehati-hatian yang dilakukan sudah memadai atau harus lebih ketat lagi.
4. Langkah 4: Mencatat penemuan.
5. Langkah 5: Tinjau ulang penilaian dan perbaiki jika perlu.

Analisa dan Penilaian Risiko
Akibat (consequences) yaitu tingkat keparahan atau kerugian yang mungkin terjadi dari suatu kecelakaan/loss akibat bahaya yang ada. Hal ini bisa terkait dengan manusia, properti, proses, lingkungan dan lain-lain.
Contoh: Fatality atau kematian, cacat, perawatan medis dan P3K.

Acuan Dalam Penilaian Risiko
Agar penilaian yang kita lakukan seobyektif mungkin yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan Audit SMK3, maka perlu mengumpulkan informasi sebelum menilai resiko dari suatu akitifitas seperti berikut:
1. Informasi tentang suatu aktifitas (durasi, frekuensi, lokasi dan siapa yang melakukan)
2. Tindakan pengendalian risiko yang telah ada
3. Peralatan/mesin yang digunakan untuk melakukan aktifitas
4. Bahan yang dipakai serta sifat-sifatnya (MSDS)
5. Data statistik kecelakaan/penyakit akibat kerja (internal dan eksternal)
6. Hasil studi dan survey ataua pemantauan
7. Literatur
8. Benchmark pada industri sejenis
9. Penilaian pihak spesiality/tenaga ahli dan lain-lain

Analisa Risiko
Ada tiga cara dalam penilaian risiko, yaitu:
1. Kualitatif
Metode ini menganalisa dan menilai suatu risiko dengan cara membandingkan terhadap suatu diskripsi atau uraian dari parameter (peluang dan akibat) yang digunakan. Umumnya metode matriks yang akan dipakai.

2. Semi kuantitatif (contoh: pembobotan atau rangking)
Metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan analisa kualitatif, perbedaannya pada metode ini uraian atau deskripsi dari parameter yang ada dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu.

3. Kuantitatif
Metode ini dilakukan dengan menentukan nilai dari masing-masing parameter yang didapat dari hasil analisa data-data yang representatif. Analisa terhadap nilai peluang atau akibat dilakukan dengan beberapa metode seperti analisa statistik, model komputer, simulasi, fault tree analysis dan lain-lain, tergantung pada derajat risiko, sumberdaya yang tersedia untuk penilaian dan keakuratan data yang tersedia.

Penanganan Risiko
Berdasarkan penilaian risiko kemudian ditentukan apakah risiko tersebut masih bisa diterima (acceptable risk) atau tidak (unacceptable risk) oleh suatu perusahaan atau organisasi. Apabila risiko tersebut tidak bisa diterima, maka organisasi yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 harus menetapkan bagaimana risiko tersebut ditangani hingga tingkat di mana risikonya paling minimum atau sekecil mungkin. Bila risiko mudah dapat diterima atau ditolerir, maka organisasi perlu memastikan bahwa monitoring terus dilakukan terhadap risiko itu.

Risiko yang Bisa Diterima
Menentukan suatu risiko yang dapat diterima akan tergantung kepada penilaian atau pertimbangan dari suatu organisasi berdasarkan:
1. Tindakan pengendalian yang telah ada
2. Sumber daya (finansial, sumber daya manusia, fasilitas dan lain-lain)
3. Regulasi atau standard yang berlaku
4. Rencana keadaan darurat
5. Catatan atau data kecelakaan terdahulu dan lain-lain.
Catatan: walau suatu risiko masih dapat diterima tapi tetap harus dipantau atau dimonitor.

Penanganan Risiko
Bila suatu risiko tidak dapat diterima, maka harus dilakukan upaya penanganan risiko agar tidak menimbulkan kecelakaan atau kerugian. Bentuk tindakan penanganan risiko dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Hindari risiko
2. Kurangi atau meminimalkan risiko
3. Transfer risiko
4. Terima risiko

Hirarki Pengendalian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
1. Eliminasi
Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya

2. Substitusi
– Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
– Proses menyapu diganti dengan vakum
– Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
– Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan

3. Rekayasa Teknik
– Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
– Pemasangan general dan local ventilation
– Pemasangan alat sensor otomatis

4. Pengendalian Administratif
– Pemisahan lokasi
– Pergantian shift kerja
– Pembentukan sistem kerja
Pelatihan karyawan
– Alat Pelindung Diri
– Helmet
– Safety Shoes
– Ear plug/muff
– Safety goggles
– Masker
– Breathing apparatus dan lain-lain

Pemantauan dan Tinjauan Ulang
Setelah rencana tindakan pengendalian risiko dilakukan, maka selanjutnya perlu dipantau dan ditinjau ulang apakah tindakan tersebut sudah efektif atau belum. Bentuk pemantauan antara lain:
1. Inspeksi dan safety patrol
2. Pemantauan lingkungan kerja dan LH
3. Near miss report
4. Accident report
5. Pemeriksaan kesehatan
6. Audit

Pemantauan dan tinjauan ulang harus dilakukan karena akan selalu ada potensi hazard yang baru untuk setiap tempat kerja, hazard ini dapat disebabkan oleh:
1. Penggunaan teknologi, peralatan atau bahan-bahan dan produk baru.
2. Penerapan dari metode atau prosedur kerja baru (SOP baru)
3. Perubahan lingkungan kerja (perpindahan ke kantor yang berbeda, pengurangan staff, mutasi, rotasi , shift dan lain-lain.
4. Perubahan organisasi atau manajemen.
5. Mempekerjakan staff baru dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan yang berbeda.

Pelatihan-Pelatihan Manajemen Risiko di PJK3 Accelera Safety:

Integrated Management System Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Ahli K3 Umum Bonus 5 Sertifikat Kompetensi Accelera Safety

.

Penerapan PP 50 SMK3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Accelera Safety

.

5R/5S Kaizen Accelera Safety

Langkah-Langkah Analisa Kecelakaan Kerja dan Laporannya

By | News & Article | No Comments

Adapun langkah-langkah analisa kecelakaan kerja yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3, sebagai berikut:
1. Tanggap terhadap keadaan darurat dengan cepat dan positif segera ambil langkah pengamanan dan pengendalian di tempat kerja.
2. Kumpulkan informasi yang terkait.
3. Analisa semua fakta yang penting.
4. Kembangkan dan ambil tindakan perbaikan/pengendalian.
5. Membuat laporan analisis.

Hasil analisa kecelakaan kerja adalah
1. Pengelompokan Kecelakaan yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3
– Pengelompokan tingkat keparahan kecelakaan (mati, luka berat, luka Ringan)
– Luka Berat yaitu luka yang mengakibatkan cacat tetap, seperti kehilangan atau tidak berfungsinya salah satu atau beberapa organ tubuh atau gangguan jiwa.
– Luka Ringan yaitu luka yang memerlukan perawatan medis sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan tidak lebih dari satu hari.
– Pengelompokan daerah kerja
2. Sasaran Statistik Kecelakaan
– Mengetahui pandangan menyeluruh angka kecelakaan dari waktu ke waktu digunakan ukuran statistik kecelakaan yang umumnya terbagi dalam FR (Frequensi Rate) dan SR (Saverity Rate).

Parameter analisa kecelakaan bertujuan sebagai berikut:
1. FR bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus kecelakaan per 1.000.000 jam kerja orang produktif.
2. SR bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan/ kerugian akibat kecelakaan bagi perusahaan yang dikonversikan dalam jumlah hari yang hilang per 1.000.000 jam kerja orang produktif.
3. FR & SR sebagai tolok ukur kinerja K3 dengan melihat kecenderungan kedua angka tersebut
4. Angka 1.000.000 berarti jam kerja orang standar dengan perhitungan sesuai ILO, yaitu 50 minggu dikalikan 40 jam untuk setiap 500 orang TK.
5. Jumlah jam kerja orang didapatkan dari: (Jumlah TK dikalikan (x) hari kerja dikalikan (x) delapan jam) – hari kerja hilang dikalikan (x) 8 jam.
6. Jumlah hari kerja orang yang hilang adalah penjumlahan dari cuti, sakit, mangkir dan kecelakaan.
7. Perhitungan karena kecelakaan adalah sesuai konversi hari kerja hilang karena cacat anatomis atau cacat fungsi dan kematian akibat kecelakaan kerja atau untuk setiap luka ringan dengan tidak ada amputasi tulang kerugian hari kerja adalah sebesar jumlah hari sesungguhnya selama korban tidak mampu bekerja sesuai Lampiran II Keputusan Direktur Nomor Kep.84/BW/1998.

Laporan Pemeriksaan dan Pengkajian Kecelakaan:
1. Data umum:
– Identitas Perusahaan
– Informasi Kecelakaan
– Keterangan Lain

2. Data korban:
– Jumlah
– Nama
– Akibat kecelakaan
– Bagian Tubuh yang cidera

3. Fakta yang didapat:
– Kondisi yang berbahaya (kondisi tidak aman secara mekanik maupun fisik)
– Tindakan yang berbahaya (tindakan yang menyimpang dari prosedur)

4. Uraian terjadinya kecelakaan:
– Kronologis kejadian kecelakaan dari saksi yang ada atau kemungkinan terjadinya kecelakaan secara logika sesuai cara kerja.
– Hal-hal yang dapat mempengaruhi korban dalam melakukan pekerjaannya; misal: sakit, sters dan lain-lain.
– Mengungkapkan kejadian sesaat sebelum, saat terjadi, sesaat setelah kejadian kecelakaan (Sequent /rentetan kejadian)

5. Sumber kecelakaan:
– Pilihlah benda, bahan, zat atau pemapar lainnya yang tidak aman di tempat kejadian perkara (tempat kejadian perkara (TKP))
– Pilihlah benda/ zat/ alat yang kontak langsung dengan korban

6. Tipe kecelakaan dilihat berdasarkan proses terjadi hubungan kontak sumber kecelakaan dengan luka atau sakit yang diderita korban.

7. Penyebab kecelakaan yaitu dengan menganalisa dan menemukan tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman

8. Syarat-syarat yang diberikan adalah ekonomis, dapat dilakukan/dikerjakan, efektif dalam mencegah kecelakaan dan tidak mengganggu proses produksi.

9. Tindakan lebih lanjut adalah rekomendasi, tindakan berkaitan dengan jaminan sosial, penyelidikan/penyidikan dan pembinaan.

10. Hal-hal lain yang perlu dilaporkan adalah tindakan yang telah diambil oleh pihak manajemen, dampak terhadap lingkungan, peralatan atau tenaga kerja dan lain-lain.

Pelatihan Ahli K3 Umum (AK3U) Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI 2019 Accelera Safety

error: Content is protected !!
WhatsApp chat