fbpx
was successfully added to your cart.
All Posts By

accpelatihan

Analisa Kecelakaan Kerja Di Tempat Kerja

By | News & Article | No Comments

Pertanyaan Tentang Analisa Kecelakaan:
1. Apakah perusahaan mempunyai kebijakan K3 dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3?
2. Sejauh mana manajemen bertanggung jawab atas K3 (pengorganisasian dan partisipasinya)?
3. Sejauh mana manajemen mendelegasikan tanggung jawab K3 (Tim Ahli K3 Umum, SMK3, kepala bagian produksi, pengawas atau supervisor, pekerja)?
4. Apakah inspeksi rutin terlaksana dengan baik?
– Siapa yang bertanggung jawab?
– Siapa yang melaksanakan?
– Berapa kali diadakan?
– Kepada siapa inspeksi dilaporkan?
– Tindak lanjut inspeksi?
5. Cacatan kecelakaan apa saja yang disimpan?

Kategori Kecelakaan Kerja :
Kecelakaan kerja industri (industrial accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, adanya sumber bahaya atau bahaya kerja. Kecelakaan dalam perjalanan yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja dalam kaitannya dengan adanya urusan pekerjaan.

Pengertian kecelakaan kerja menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

Pengertian kecelakaan kerja menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, pasal 1 nomor 14 adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

Pengertian Kecelakaan berdasarkan Permenaker Nomor 03 Tahun 1998 adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga sejak semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Penyakit Akibat Kerja atau yang disingkat PAK adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Kejadian berbahaya lainnya adalah suatu kejadian yang berpotensi untuk dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja kecuali kebakaran, peledakan dan bahaya akibat pembuangan limbah.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, pada Pasal 11 menyebutkan bahwa:
1. Pengurus atau diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya kepada pejabat yg ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
2. Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan yang dapat dijelaskan oleh pimpinan perusahaan atau seorang Ahli K3 Umum.

Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan menurut Permenaker Nomor 3 Tahun 1998 adalah
1. Pasal 2
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 wajib melaporkan tiap kecelakaan anyg terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya.
– Kecelakaan yang dimaksud adalah kecelakaan kerja, kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah dan kejadian berbahaya lainnya.
2. Pasal 3
Pengurus/pengusaha yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya dalam program BPJS (Undan-Undang Nomor 24 Tahun2011)
3. Pasal 4
– Dilaporkan secara tertulis ke Kakandepnaker/ Kakadisnaker dalam waktu kurand dari atau sama dengan 2 x 24 jam sejak kejadian dengan formulir bentuk 3 KK2 A.
– Dapat dilaporkan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis.
4. Pasal 5
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang telah mengikut sertakan pekerjaannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan.
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang belum mengikut sertakan pekerjaannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

Tujuan pelaporan kecelakaan adalah agar pekerja mendapatkan haknya dalam bentuk jaminan dan tunjangan, serta agar dapat dilakukan penyidikan dan penelitian serta analisa untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa.

Analisa Kecelakaan
1. Setiap kecelakaan harus dilaporkan dan dilakukan pemeriksaan dan pengkajian agar dapat dilakukan analisa kecelakaan yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.
2. Analisa yang dilakukan oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 untuk mengetahui penyebab kecelakaan dan mengetahui akibat kecelakaan, serta langkah apa yang perlu diambil.
3. Maksud utama analisa kecelakaan adalah memberi jawaban mengapa kecelakaan terjadi (diungkap sebab sesungguhnya) dan ditentukan upaya pencegahannya.

Tujuan analisa kecelakaan adalah karena analisa kecelakaan kerja yang efektif harus dapat menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, menentukan sebab apa yang sebenarnya, mengukur risiko, mengembangkan tindakan kontrol, menentukan kecenderungan (trend) dan menunjukkan peran serta.

Apa yang dianalisa? Yang dianalisa adalah setiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, meliputi kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, peledakan, kebakaran, bahaya, pembuangan limbah dan kejadian bahaya lainnya.

Siapakah yang menjadi petugas analisa, yaitu petugas yang berwenang dan memunyai kemampuan dan keahlian untuk tugas tersebut, yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3, pengawas kerja lini (line supervisor) dan atau dapat dilakukan oleh manajer.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

Ergonomi dan K3

By | News & Article | No Comments

Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3 Umum) adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat (Silalahi, 1995)

Ergonomi dan Kesehatan & Keselatan Kerja (K3) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life)

Ergonomi berasal dari kata ergon: kerja dan nomos: peraturan/hukum
Pengertian Ergonomi:
Ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin.

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari perancangan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia, sistem orang dan mesin, peralatan yang dipakai manusia agar dapat dijalankan dengan cara yang paling efektif termasuk alat – alat peragaan untuk memberi informasi kepada manusia.
(Sutalaksana :”Teknik Tata Cara Kerja”).

Sikap Kerja Ergonomis:
1. Menghindarkan sikap yang tidak alamiah dalam bekerja.
2. Beban statis menjadi seminimal mungkin.
3. Pembuatan/penentuan kriteria dan ukuran baku peralatan kerja (meja, kursi dll)
4. Dilakukan sikap berdiri dan duduk secara bergantian.

Kelelahan adalah keadaan tenaga kerja yang mengakibatkan terjadinya penurunan vitalitas dan produktifitas kerja akibat faktor pekerjaan.

Jenis Kelelahan:
1. Kelelahan Otot
Gejala yang terjadi adalah berkurangnya tekanan fisik, makin rendahnya gerakan, meningkatnya kesalahan dan lain-lain.
2. Kelelahan Umum
Gejala yang terjadi yaitu kelelahan seluruh tubuh, kelelahan mental, kelelahan syaraf dan lain-lain.

Faktor-Faktor Penyebab Kelelahan:
1. Intensitas dan durasi kerja fisik dan mental
2. Lingkungan kerja
3. Irama metabolisme tubuh
4. Masalah Psikologis
5. Penyakit
6. Gizi tidak memadai
7. dan lain-lain

Posisi yang menghasilkan kelelahan, misalnya :
Mengangkat berulang-ulang pada posisi yang mengharuskan pekerja mendongkak
Pekerjaan dengan objek yang letaknya diatas kepala pekerja dan dalam waktu yang lama
Posisi tubuh membungkuk untuk waktu cukup lama

Pencegahan terhadap kelelahan
1. Menggunakan secara benar waktu istirahat kerja
2. Melakukan koordinasi yang baik antara pimpinan dan karyawan
3. Mengusahakan kondisi lingkungan kerja sehat, aman, nyaman dan selamat
4. Mengusahakan sarana kerja yg ergonomis
5. Memberikan kesejahteraan dan perhatian yg memadai
6. Merencanakan rekreasi bagi seluruh karyawan

CTD (Cummulative Trauma Disorder)
Trauma dari keadaan yang tidak teratur
Muncul karena terkumpulnya kerusakan kecil akibat trauma berulang yang membentuk kerusakan cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit.

Trauma jaringan timbul karena:
1. Overexertion
Proses penggunaan berlebihan
2. Overstretching
Proses peregangan berlebih
3. Overcompression
Proses penekanan berlebih

Pencegahan dan Pengendalian Bahaya
Menghilangkan, mengurangi, atau mengontrol adanya faktor risiko:
1. Pengendalian secara Teknik
2. Pengendalian secara Administrasi
3. Desain Kantor Kerja
4. Pelatihan

1. Pengendalian secara Teknik
Teknik kontrol atau teknik adalah mekanisme yang lebih disukai untuk mengendalikan bahaya ergonomis. Ini mungkin memerlukan merancang ulang stasiun kerja, metode kerja, dan alat untuk mengurangi tuntutan pekerjaan, seperti tenaga, pengulangan dan posisi yang aneh. Ini seharusnya diprakarsai oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

2. Pengendalian secara Administrasi
– Penggantian personil untuk pekerjaan dengan persyaratan fisik yang berbeda.
– Membuat jadwal kerja / jadwal istirahat istirahat.
– Pelatihan personil untuk menggunakan metode kerja yang sesuai/yang cocok.

3. Desain Kantor Kerja
Kantor kerja harus mudah disesuaikan untuk mengakomodasi pekerja dalam melakukan tugas. Dalam perencanaan desain tempat kerja dapat meminta masukan dari Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

4. Pelatihan
– Pelatihan harus memungkinkan setiap orang untuk mengenali faktor risiko dan memahami prosedur yang digunakan untuk meminimalkan resiko.
– Pelatihan penyegaran harus disediakan setiap tahun dan pelatihan ulang harus dilakukan ketika personil ditugaskan ke pekerjaan baru dengan risiko yang berbeda, atau risiko baru ditemukan.
– Pelatihan K3, baik itu seorang diikutkan dalam Pelatihan Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3, maupun pelatihan bagi karyawan oleh tim internal Ahli K3 Umum dan SMK3 (PPK3)

Prinsip Penerapan Ergonomi
1. Bentuk dan ukuran alat serta fasilitas agar disesuaikan dng bentuk dan ukuran tubuh tenaga kerja
2. Menghindari kontraksi statis sedapat mungkin tak melebihi lima belas persen kekuatan maksimal
3. Usahakan posisi dan sikap tubuh yg alamiah waktu bekerja
4. Sedapat mungkin menghindari sikap berdiri diam saat bekerja
5. Pengaturan irama kerja agar sesuai dengan irama pemulihan

Penerapan ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya.

Disadur dari Mata Kuliah K3 Tahun 2011, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Negeri Malang.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan budaya Kerja 5R 5S Kaizen Accelera Safety

Kepemimpinan Pada Basis K3 (Safety Leadership)

By | News & Article | No Comments

Kepemimpinan Keselamatan (safety leadership) didefinisikan sebagai proses mendefinisikan keadaan yang diinginkan, membentuk tim Ahli K3 Umum dan SMK3 untuk berhasil, dan terlibat dalam upaya diskresi yang mendorong nilai keselamatan, yang secara luas bermuara pada keterlibatan dalam dan mempertahankan perilaku yang membantu orang lain mencapai tujuan keselamatan kita.

Penyelarasan nilai mendorong orang untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas keselamatan dengan menetapkan harapan untuk setiap lapisan (manajemen senior atau menengah, ahli K3 umum, auditor SMK3 dan karyawan) yang terkait dengan tujuan yang jelas. CEO menguraikan visinya dan manajer senior menentukan bagaimana menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata.

Sistem & pemantauan menempatkan sistem manajemen risiko atau keselamatan yang diprakarsai oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang kuat yang mencakup (tetapi tidak terbatas pada) pemeliharaan preventif, prosedur operasi, inspeksi, izin untuk melakukan pembicaraan keselamatan sistem kerja, komite keselamatan, penilaian risiko, pelaporan nyaris tak terduga dan pelatihan.

Pendidikan & Kesadaran memberikan pelatihan kepemimpinan keselamatan sehingga kepemimpinan keselamatan menjadi nilai perusahaan. Penilaian efektifitas strategi pelatihan berkisar di sekitar karyawan yang secara nyata mengamati komitmen kepemimpinan dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 terhadap tempat kerja yang aman dan para pemimpin di organisasi menjadi lebih berpengetahuan tentang keselamatan dengan manajemen lini menerima tanggung jawab keselamatan mereka.

Menunjukkan Kepemimpinan yang terlihat dapat mendorong tim manajemen (dari yang paling senior ke bawah) dan Ahli K3 Umum, serta Tim SMK3 untuk menunjukkan komitmen kepemimpinan yang terlihat ke tempat kerja yang aman.

Tujuh Praktik Terbaik untuk Pemimpin
Pemimpin, walaupun terbatas dalam kemampuan mereka untuk memberlakukan hal-hal khusus dari pekerjaan sehari-hari, membuat keputusan tentang sumber daya dan arahan organisasi – dan berdampak pada budaya dan iklim di mana kegiatan keselamatan harus terjadi.

1. Visi – Pemimpin yang efektif mampu “melihat” seperti apa bentuk keselamatan itu dan menyampaikan visi itu dengan cara yang meyakinkannya di seluruh organisasi terutama dalam menerjemahkan dan bekerja sama dengan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3. Pemimpin ini bertindak dengan cara yang mengomunikasikan standar pribadi yang tinggi dalam hal keselamatan, membantu orang lain mempertanyakan dan memikirkan kembali asumsi mereka tentang keselamatan, dan menggambarkan gambaran yang meyakinkan tentang seperti apa masa depan.
2. Kredibilitas – Pemimpin yang efektif memupuk tingkat kepercayaan yang tinggi pada rekan-rekan dan laporannya. Pemimpin ini bersedia mengakui kesalahan dengan orang lain, mengadvokasi untuk laporan langsung dan kepentingan kelompok, dan memberikan informasi yang jujur ​​tentang keselamatan bahkan jika itu tidak diterima dengan baik.
3. Kolaborasi – Pemimpin yang efektif bekerja dengan baik dengan orang lain, mempromosikan kerja sama dan kolaborasi dalam keselamatan, secara aktif mencari masukan dari orang-orang tentang masalah yang mempengaruhi mereka, dan mendorong orang lain untuk mengimplementasikan keputusan dan solusi mereka untuk meningkatkan keselamatan.
4. Komunikasi – Pemimpin yang efektif adalah komunikator yang hebat. Ia mendorong orang untuk melakukannya
berikan informasi yang jujur ​​dan lengkap tentang keamanan bahkan jika informasi itu tidak menguntungkan. Pemimpin ini membuat orang mendapat informasi tentang gambaran besar dalam keselamatan, dan berkomunikasi secara sering dan efektif di atas, di bawah, dan di seluruh organisasi.
5. Orientasi Tindakan – Pemimpin yang efektif lebih proaktif daripada reaktif dalam menangani masalah keselamatan. Pemimpin ini memberikan tanggapan yang tepat waktu dan dipertimbangkan untuk masalah keselamatan, menunjukkan rasa urgensi pribadi dan energi untuk mencapai hasil keselamatan, dan menunjukkan fokus yang didorong kinerja dengan memberikan hasil dengan kecepatan dan keunggulan.
6. Umpan Balik & Pengakuan – Pemimpin yang efektif pandai memberikan umpan balik dan mengenali orang-orang atas prestasi mereka. Orang ini secara terbuka mengakui kontribusi orang lain, menggunakan pujian lebih sering daripada kritik, memberikan umpan balik positif dan pengakuan untuk kinerja yang baik, dan menemukan cara untuk merayakan pencapaian dalam keselamatan.
7. Pertanggungjawaban – Dia memberi orang penilaian yang adil atas upaya dan menghasilkan keselamatan, dengan jelas mengomunikasikan peran orang dalam upaya keselamatan, dan menumbuhkan perasaan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tingkat keselamatan di unit organisasi mereka.

Mentalitas nihil kecelakaan adalah budaya nihil kecelakaan (zero injury) yang menanamkan keyakinan bahwa cedera dan kematian tidak dapat diterima, tidak boleh dimaafkan, dan tidak hanya dapat dikurangi, tetapi sebenarnya dapat dicegah. Pergeseran budaya ini diperlukan di tingkat proyek, perusahaan dan industri, serta dalam pemikiran dan tindakan setiap karyawan, terutama oleh dan kepada Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 di perusahaan tersebut.

Apa yang diperlukan untuk menjadikan filosofi ini kenyataan? Kepemimpinan bersama Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 bertekad untuk mengubah sikap yang berlaku yang merasionalisasi kematian dan cedera sebagai aspek yang tidak menguntungkan dari industri konstruksi dan biaya untuk melakukan bisnis.

Budaya tanpa cedera secara langsung memengaruhi sikap dan perilaku keselamatan, termasuk apakah karyawan mengenakan APD, mengabaikan instruksi pelatihan dan / atau mengambil jalan pintas keselamatan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Kuisioner budaya:
1. Apakah tim manajemen senior bersama ahli K3 umum dan SMK3 perusahaan Anda mengoperasionalkan komitmen keselamatan dan menunjukkan keterlibatan dalam mengelola proses dengan menangani keselamatan sebagai disiplin strategis inti yang berdampak positif terhadap pelaksanaan kinerja perusahaan dan proyek?
2. Apakah pengawas (Ahli K3 Umum, SMk3, management representative dan karyawan perusahaan Anda pada dasarnya percaya bahwa semua kecelakaan dan cidera dapat dicegah atau apakah mereka percaya bahwa kecelakaan dan cedera adalah bagian dari bekerja di industri konstruksi?
3. Apakah perusahaan Anda dikenal memiliki program keselamatan dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang kuat dengan perhatian yang ketat terhadap keselamatan atau apakah keselamatan diketahui memiliki kursi belakang terhadap tekanan produksi?
4. Apakah sikap perusahaan Anda melalui perwakilannya (Tim Ahli K3 Umum dan SMK3) terhadap keselamatan menganggapnya sebagai kejahatan yang perlu yang menurunkan produktivitas atau sebagai proses vital yang berdampak positif terhadap produktivitas dan profitabilitas dengan mempertahankan tenaga kerja yang sehat?
5. Apakah kinerja keselamatan dipandang sebagai tanggung jawab petugas keselamatan perusahaan (Tim Ahli K3 Umum dan SMK3) atau menjalankan praktik kerja yang aman menjadi tanggung jawab setiap karyawan?
6. Apakah perusahaan Anda memiliki budaya yang memaafkan atau menghilangkan jalan pintas keselamatan?
7. Apakah perusahaan Anda melibatkan semua karyawan dalam proses keselamatan, termasuk melakukan pengamatan keselamatan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kondisi yang tidak aman dan perilaku “berisiko” atau hanya Tim Ahli K3 Umum dan SMK3nya yang tergabung dalam PPK3?
8. Apa reputasi perusahaan Anda untuk keselamatan di antara perusahaan peer group?
9. Apakah keselamatan yang dibuktikan dengan adanya Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 merupakan aspek penting dari citra dan reputasi merek perusahaan Anda?
10. Apakah tim manajemen senior Anda rela “all-in” untuk keselamatan dan kesejahteraan karyawannya dengan menjadikannya nilai inti perusahaan?

Apa yang dapat saya lakukan?
1. Tunjukkan komitmen
2. Staf untuk keselamatan
3. Perencanaan (pra-pekerjaan atau pra-tugas)
4. Mendukung dan menyediakan waktu untuk pelatihan
5. Dorong keterlibatan pekerja
6. Evaluasi, lalu kenali / hadiah
7. Berpartisipasi dalam investigasi kecelakaan / insiden
8. Pastikan tempat kerja yang bebas dari narkoba / alkohol

Perangkap Umum:
1. Disiplin: Inkonsistensi, pesan campuran, bias atribusi, menggunakan disiplin sebagai pencegah, pemahaman dangkal.
2. Kembalikan ke cara lama karena tekanan penjadwalan, biaya, lebih mudah
3. Kehilangan momentum
4. Tetap termotivasi

dari sinilah kita dapat melihat betapa penting sosialisasi oleh seorang Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3 di perusahaan menjadi sangat penting untuk kemajuan perusahaan tersebut dan zero accident.

Diterjemahkan oleh Accelera Safety dari Neca – Safety Professionals Conference 2015

Pelatihan Budaya Kerja 5R 5S Kaizen + Safety Leadership Accelera Safety

.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan QHSE SHEQ Quality, Health, Safety, and Environment Accelera Safety

IMS/QMS/QHSE Memberikan Gambar Besar Inetgrasi Sistem Untuk Bagaimana Meningkatkan Mutu Perusahaan

By | Uncategorized | No Comments

Manajemen mutu pada rangkaian QHSE (quality, health, safety and environment) memiliki fokus utama yaitu perbaikan proses. Seringnya, banyak variasi dalam suatu proses disebabkan oleh sistem, bukan individu, kerja tim merupakan bagian integral dari manajemen kualitas, kepuasan pelanggan adalah tujuan utama, transformasi organisasi diperlukan, ketakutan harus dihilangkan dari organisasi dan biaya kualitas lebih tinggi lebih sedikit, bukan lebih banyak.

Prinsip Manajemen Mutu:
1. Fokus pelanggan
2. Kepemimpinan
3. Keterlibatan orang
4. Pendekatan proses
5. Pendekatan sistem untuk manajemen
6. Perbaikan terus menerus
7. Pendekatan faktual untuk pengambilan keputusan
8. Hubungan pemasok yang saling menguntungkan

Strategi IMS/QMS terbaik adalah selama semua fase siklus hidup proyek, perhatian utama haruslah kualitas, keamanan dan kinerja lingkungan dari layanan atau produk yang disediakan.

Sistem manajemen berarti apa yang dilakukan organisasi untuk mengelola prosesnya, atau kegiatannya agar produk atau layanannya memenuhi tujuan organisasi, seperti memenuhi persyaratan kualitas pelanggan, mematuhi peraturan, atau memenuhi tujuan lingkungan.

Agar benar-benar efisien dan efektif, organisasi dapat mengelola caranya melakukan sesuatu dengan membuat sistem itu. Tidak ada yang penting yang ditinggalkan. Setiap orang perlu jelas memahami tentang siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan apa, kapan, bagaimana, mengapa dan di mana. Standar sistem manajemen memberi organisasi suatu model internasional yang mutakhir untuk diikuti.

Organisasi besar, atau yang memiliki proses rumit, tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa sistem manajemen. Perusahaan di bidang seperti dirgantara, mobil, pertahanan, atau perangkat perawatan kesehatan telah mengoperasikan sistem manajemen selama bertahun-tahun. Standar sistem manajemen ISO 9001 dan ISO 14001 sekarang membuat praktik sukses ini tersedia untuk semua organisasi.

Baik ISO 9001 dan ISO 14001, keduanya berkonsentrasi pada hal yang menyangkut cara organisasi tersebut menjalankan operasionalny. Mereka bukan standar produk. Mereka bukan standar layanan. Mereka adalah standar proses. Mereka dapat digunakan oleh produsen produk dan penyedia layanan.

Proses mempengaruhi produk atau layanan akhir. ISO 9001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang memengaruhi kualitas produk dan layanannya. ISO 14001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang mempengaruhi dampak kegiatannya terhadap lingkungan.

Manfaat IMS/QMS/QHSE:
1. Konsensus internasional, pakar tentang praktik mutakhir untuk kualitas dan pengelolaan lingkungan.
2. Bahasa umum untuk berurusan dengan pelanggan dan pemasok di seluruh dunia dalam B2B.
3. Tingkatkan efisiensi dan efektivitas.
4. Model untuk perbaikan berkelanjutan.
5. Model untuk memuaskan pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya.
6. Bangun kualitas menjadi produk dan layanan mulai dari desain dan seterusnya.
7. Mengatasi masalah lingkungan dari pelanggan dan publik, dan mematuhi peraturan pemerintah.
8. Integrasikan dengan ekonomi global.
9. Bisnis yang berkelanjutan.
10. Basis pemersatu untuk sektor industri.
11. Pemasok yang memenuhi syarat untuk rantai pasokan global.
12. Dukungan teknis untuk peraturan yang akan diberlakukan di perusahaan atau oragnisasi.
13. Transfer praktik yang baik ke negara-negara berkembang
14. Alat untuk pemain ekonomi baru
15. Integrasi regional
16. Memfasilitasi peningkatan layanan
17. Satu klausa dapat menggambarkan semua persyaratan serupa pada semua sistem manajemen terkait
18. Evaluasi lebih mudah dilakukan, karena satu klausa sudah memiliki semua aspek terkait untuk ditinjau
19. Lebih mudah untuk mengontrol dokumen
20. Setiap orang, terlebih tim Ahli K3 Umum dan SMK3, di dalam perusahaan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kualitas, lingkungan, kesehatan, keselamatan, keamanan dan pengembangan masyarakat.

Pada umumnya, aspek mutu dari IMS/QMS/QHSE akan mengacu pada ISO 9001:2015, aspek lingkungan akan mengacu pada ISO 14001:2015 dan aspek keselamatan dan kesehatan kerja mengacu pada ISO 45001.
Aplikasi dari tiga sistem (IMS/QHSE) tersebut di organisasi seringnya dilakukan secara terpisah yang dapat berdampak pada bertambahnya beban perusahaan selain dapat terjadinya ketidakefisienan pada sistem dokumentasi yang berlaku di oraganisasi tersebut. Di sinilah kita dapat melihat betapa pentingnya pemahaman dan penguasaan terhadap integrasi (QHSE/IMS) dari sistem ISO 9001:2015, ISO 14001:2015 dan ISO 45001, serta penguasaan strategi dan teknik pembuatan berbagai dokumentasinya yang menjadi sangat penting untuk implementasi yang sukses dan berhasil. Pelatihan QHSE/IMS/QHSE ini sangat penting agar tiap individu dapat melihat gambaran besar atau jahitan dari integrasi sistem-sitem tersebut dalam meningkatkan mutu perusahaan.

Pelatihan QHSE SHEQ (quality health safety environment) IMS (integrated management system) Accelera Safety

 

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

Budaya Kerja 5R Sebagai Pembangun Industri Kelas Dunia

By | News & Article | No Comments

Pengertian 5R atau di Jepang dikenal dengan sebutan 5S ialah cara untuk mengatur atau mengelola tempat kerja menjadi tempat kerja yang lebih baik secara berkelanjutan. Penerapan 5R bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas di tempat kerja. Penerapan 5R bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas di tempat kerja, serta menjadi cikal bakal terbentuknya budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Manfaat penerapan 5R di tempat kerja di antaranya untuk meningkatkan produktifitas kerja karena pengaturan tempat kerja yang lebih efisien, meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan menjadi luas, mengurangi bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang bagus/baik dan meningkatkan penghematan karena menghilangkan berbagai pemborosan di tempat kerja.

Best practice yang ditampilkan pada berbagai industri kelas dunia berasal dari banyak “basic practices” penerapan 5R yang telah terbukti menjadi fondasi pembangunan industri yang kokoh dan masuk dalam kelas dunia. Kegiatan 5R terdiri atas pengertian tempat kerja yang Ringkas, Rapih, Resik, Rawat dan Rajin.

Ringkas berarti memisahkan dan menyingkirkan barang yang tidak perlu dari tempat kerja.

Rapi adalah tindakan mengatur dan menyusun tata letak peralatan dan perlengkapan kerja agar selalu siap pada saat diperlukan.

Resik merupakan langkah membersihkan tempat kerja dan senantiasa melaksanakan kebersihan.

Rawat adalah proses mempertahankan langkah Ringkas, Rapi dan Resik.

Rajin adalah tahap di mana menjadikan empat langkah di atas tersebut sebagai suatu kebiasaan atau gaya hidup.

Melalui pengetahuan dan penerapan 5R ini tiap orang akan menyadari dan memeluk nilai budaya tentang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Penerapan kegiatan 5R secara berkala akan menjamin berkembangnya budaya industri. Banyak perusahaan yang menikmati kenaikan produktifitas setelah mulai melaksanakan kegiatan 5R. Bagi perusahaan bidang jasa seperti pariwisata, rumah sakit, hotel, restoran, bank dan kantor pelayanan masyarakat, 5R merupakan nilai dan kegiatan wajib untuk diterapkan dalam rangkaian proses kerja.

Masalah-masalah yang sering terjadi pada kehidupan manusia sehari-hari berkisar pada seringnya terjadi cacat atau kesalahan pada hasil pekerjaan, adanya pemborosan waktu akibat sulit mencari barang dan tidak siap memakai peralatan kerja, adanya pemborosan waktu pada penggunaan alat-alat akibat dari kurang pemeliharaan peralatan, terjadinya kecelakaan kerja akhibat lingkungan kerja yang tidak memadai dan kesehatan karyawan terganggu akhibat lingkungan kerja yang tidak sehat. Sudah sangat tentu bahwa 5R ini sangat berhubungan erat dengan kesehatan dan keselamatan kerja yang dikerjakan oleh Tim Ahli K3 umum dan SMK3 di tempat kerja.

Manfaat dari budaya kerja berbasis 5R adalah terciptanya tempat kerja yang bersih dan menyenangkan, terawatnya peralatan, perlengkapan kerja serta bangunan, terwujudnya disiplin yang dibutuhkan untuk mencapai standar kerja, adanya efisiensi pada masing-masing bagian, adanya saling menghargai antar karyawan dan terbentuknya habitat budaya dan lingkungan K3.

Dengan diterapkannya 5R ini, maka sudah bisa dipastikan bahwa produktifitas suatu perusahaan akan meningkat dan tingkat kepuasan konsumen pun akan terdampaki. 5R merupakan kegiatan yang dilakukan oleh semua orang, baik dari level top manajemen hingga karyawan suatu perusahaan. Ini merupakan komitmen dari pimpinan tertinggi suatu perusahaan untuk meningkatkan taraf perusahaannya ke kancah internasional. Oleh karena 5R ini merupakan gaya hidup atau budaya, sudah sangat jelas bahwa karyawan-karyawan perusahaan perlu mendapatkan model dari pimpinan mereka dalam membangun budaya 5R tersebut. Ini menjadi tantangan besar bagi para pemimpin perusahaan, namun sekaligus juga menjadi nilai tambah bagi karyawan, perusahaan dan lebih lagi bagi konsumen.

Demikianlah pentingnya pengetahuan 5R ini bagi setiap individu, pengetahuan perlu dimiliki agar dapat mengarahkan tiap individu dalam mengambil tindakan, salah satunya melalui Pelatihan Budaya Kerja 5R Kaizen yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan resmi dan berkompeten.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan 5R 5S Kaizen Accelera Safety

Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Bidang Konstruksi

By | News & Article | No Comments

Seperti yang sudah disinggung pada artikel sebelumnya mengenai Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) yang mana telah dijelaskan bahwa Sistem Manajemen K3 dan Ahli K3 Umum adalah bagian dari sistem manajamen perusahaan secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi:
1. Pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3.
2. Dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja.
3. Guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Adapun pada artikel ini akan dijelaskan bagaimana penerapan SMK3 oleh Tim SMK3 dan Ahli K3 Umum pada bidang konstruksi. Sebelum masuk pada spesifikasi SMK3 Konstruksi, artikel ini akan memberi sedikit pendahuluan tentang ranah konstruksi.

Pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan yang banyak menggunakan berbagai peralatan canggih dan manual dalam pengerjaannya. Peralatan ini digunakan pada pelaksanaan pekerjaan di lahan yang luas dalam berbagai jenis kegiatan, sehingga menyebabkan risiko tinggi terhadap kecelakaan. Di samping peralatan, kurangnya pengetahuan pekerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), kepedulian dalam hal pengawasan K3 juga dan peran seorang Ahli K3 Umum menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja.

Hingga saat ini kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja belum mendapatkan perhatian yang serius dari dan oleh semua pihak, kecalakaan kerja yang terjadi masih tinggi, pelaksanaan pengawasan masih bersifat parsial dan belum menyentuh aspek manajemen, seperti rendahnya komitmen pimpinan perusahaan dan seorang Ahli K3 Umum dalam hal K3 dan kualitas tenaga kerja terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja.

Tujuan penerapan SMK3 semata-mata demi kebaikan perusahaan dan pekerja, yang mana bertujuan melindungi tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.

Dilihat dari data kecelakaan yang ada, menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan kerja yang berisiko tinggi terhadap kecelakaan, seperti terjatuh dari ketinggian, terkena peralatan tajam, tersengat listrik dan masih banyak potensi kecelakaan lainnya. Banyak penyebab kecelakaan kerja yang terjadi dalam pekerjaan konstruksi mengurangi keberhasilan proyek tersebut. Penyebab utama kecelakaan kerja adalah kurang optimalnya pelaksanaan K3 yang dikoordinir oleh Ahli K3 Umum atau bahkan ketidakadaannya Ahli K3 Umum tersebut, sedangkan penyebab dasar yang sesungguhnya adalah kurangnya komitmen pihak manajemen yang dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja seiring dengan kegiatan manajemen perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, menurut Santoso (2014) bahwa pelatihan dan implementasi K3 sangat penting untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja dan meminimalisir korban jiwa, serta meningkatkan produktifitas kerja karyawan karena usaha menyelamatkan kehidupan manusia juga merupakan tanggung jawab moral yang sangat mendasar dari semua pihak yang terkait, terlepas dari tingkat pemahamannya terhadap aturan, besar kecilnya skala proyek ataupun jenis posisi jabatan yang diembannya pada proyek konstruksi.

SMK3 merupakan sistem yang lebih bertanggung jawab dalam berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera beserta bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sistem manajemen ini juga merupakan suatu satuan elemen yang saling terkait yang digunakan untuk menetapkan kebijakan, sasaran dan pencapaian sasaran. Sasaran tersebut meliputi struktur organisasi, rencana aktifitas; termasuk analisa risiko dan penetapan obyektif, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumberdaya. SMK3 terdiri dari lima prinsip dasar acuan elemen yaitu kebijakan, perencanaan, penerapan dan operasi kegiatan, evaluasi atau pemeriksaan dan tinjauan manajemen atau usaha tindakan perbaikan.

Proyek konstruksi adalah satu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang mengelola sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Pada umumnya, proyek konstruksi diartikan sebagai proses pelaksanaan pembangunan fisik yang dilaksanakan oleh kontraktor. Padahal proyek konstruksi sebenarnyanya sudah dimulai sejak timbulnya gagasan atau ide dari pemilik proyek untuk membangun, yang kemudian proses selanjutnya akan melibatkan dan dipengaruhi oleh berbagai unsur seperti konsultan, kontraktor, konsultan pengawas dan termasuk pemiliknya sendiri. Proses pembangunan proyek kontruksi gedung pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan konstruksi ini merupakan penyumbang angka kecelakaan yang cukup tinggi (Ervianto 2015)

Harapan dari diterapkannya Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja ini adalah adanya peningkatan mutu dan kualitas dari sebuah keseluruhan rangkaian proyek konstruksi. Agar penerapan SMK3 dapat berjalan dengan baik dan benar sesuai peraturan yang ada, maka Ahli K3 Umum yang ditugaskan oleh perusahaan dalam proyek konstruksi wajib menguasai prinsip-prinsip SMK3 yang mana dapat diikutkan dalam Sertifikasi SMK3 untuk menjadi tenaga ahli spesialis terkait pelaksanaa proyek tersebut. Adapun Sertifikasi Auditor SMK3 dan Sertifikasi SMK3 perusahaan ini adalah bukti pengakuan tingkat pemenuhan penerapan peraturan perundangan SMK3. Proses Sertifikasi SMK3 suatu perusahaan dilakukan oleh badan audit independen melalui proses Audit SMK3. Sertifikat SMK3 diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Artikel ini disadur dari Jurnal Neo Teknika Volume 3 Nomor 1, Juni 2017, halaman 53 – 64 yang berjudul Studi Implementasi Sistem Manajemen K3 Pada Proyek Pembangunan Perumahan Nayara Residence Bukit Semarang Baru.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

Pelatihan Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Ahli Muda K3 Konstruksi BNSP Accelera Safety

Ahli Muda K3 Konstruksi BNSP Accelera Safety

 

Apakah Itu Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja?

By | News & Article | No Comments

Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Definisi Manajemen Dan Sistem Manajemen
Manajemen adalah suatu proses kegiatan yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasi, pelaksanaan, pengukuran dan tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya yang ada. Sedangkan Sistem Manajemen adalah kegiatan manajemen yang teratur dan saling berhubungan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Definisi Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang dapat dipelajari di Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI adalah bagian dari sistem manajamen perusahaan secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi:
1. Pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3.
2. Dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja.
3. Guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Latar belakang kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja adalah K3 masih belum mendapatkan perhatian yang memadai dari dan oleh semua pihak, kecalakaan kerja yang terjadi masih tinggi, pelaksanaan pengawasan masih bersifat parsial dan belum menyentuh aspek manajemen, relatif rendahnya komitment pimpinan perusahaan dan Ahli K3 Umum, serta Tim SMK3 dalam hal K3, kualitas tenaga kerja berkorelasi dengan kesadaran atas K3, tuntutan global dalam perlindungan tenaga kerja yang diterapkan oleh komunitas perlindungan hak buruh internasional dan desakan LSM internasional dalam hal hak tenaga kerja untuk mendapatkan perlindungan.

Tujuan penerapan SMK3 oleh Ahli K3 Umum dan Tim SMK3 yaitu melindungi tenaga kerja, meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja untuk menghadapi kompetisi perdagangan global, proteksi terhadap industri dalam negeri, meningkatkan daya saing dalam perdagangan internasional, mengeliminir boikot LSM internasional terhadap produk ekspor nasional, meningkatkan pelaksanaan pencegahan kec. melalui pendekatan sistem dan perlunya upaya pencegahan terhadap problem sosial dan ekonomi yang tekait dengan penerapan K3.

Untuk dapat memahami permasalahan terkait kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan atau organisasi, maka langkah awal dan langkah rutin perlu dilakukannya audit SMK3. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996, definisi audit SMK3 adalah alat untuk mengukur besarnya keberhasilan pelaksanaan dan penerapan SMK3 di tempat kerja, melakukan pemeriksaan secara sistimatik, yang mana audit dilakukan secara independen yang dilakukan oleh badan audit independen yang sah.

Mekanisme pelaksanaan audit dilakukan untuk pembuktian penerapan SMK3, yang mana perusahaan dapat melakukan audit melalui badan audit yang ditunjuk oleh menteri. Audit SMK3 yang dilakukan meliputi dua belas unsur. Perubahan atau penambahan unsur sesuai perkembangan diatur Menteri Tenaga Kerja. Direktur Bidang K3 di bawah naungan Kementerian Tenaga Kerja berwenang menetapkan perusahaan mana yang dinilai wajib untuk diaudit berdasarkan pertimbangan tingkat resiko bahaya. Audit SMK3 dilaksanakan sekurang-kurangnya tiga tahun sekali yang dilakukan oleh badan audit independen, di mana badan audit tersebut akan membuat RTA sebuah hasil akhir yang akan disampaikan kepada menteri atau pejabat yg ditunjuk, pengurus tempat kerja dan kantor tenaga kerja setempat dengan mengadakan koordinasi dengan kantor tenaga kerja setempat sebelum dan sesudah pelaksanaan audit. Perusahaan wajib menyediakan dokumen yg diperlukan untuk pelaksanaan audit, sikap yang koorperatif dari perusahaan yang diaudit akan memberi dampak yang baik kepada semua pihak yang terkait.

Dengan diterapkannya Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja ini sangat diharapkan adanya peningkatan mutu dan kualitas dari sebuah perusahaan. Untuk menjaga penerapan SMK3, Ahli K3 Umum di perusahaan perlu diikutkan dalam Sertifikasi SMK3 untuk menjadi tenag ahli terkait pelaksanaanya. Adapun Sertifikasi Auditor SMK3 dan Sertifikasi SMK3 perusahaan ini adalah bukti pengakuan tingkat pemenuhan penerapan peraturan perundangan SMK3. Proses Sertifikasi SMK3 suatu perusahaan dilakukan oleh badan audit independen melalui proses Audit SMK3. Sertifikat SMK3 diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

Keselamatan Dan Kesehatan Merupakan Hak Asasi Manusia

By | News & Article | No Comments

Manusia telah diciptakan dengan sempurna, memiliki sistem perlindungan mendasar sejak masih dalam kandungan hingga wafat. Setiap manusia memiliki keinginan untuk tetap selamat dan sehat, memiliki perasaan takut terhadap bahaya, memiliki naluri yang dapat mendeteksi adanya bahaya, memiliki gerak refleks dan emiliki akal yang selalu menimbang benar atau salah, serta memiliki ibu yang melindungi dan ayah yang membimbing ke jalan selamat. Sebagai hak yang asasi, maka setiap manusia harus dilindungi terhadap bahaya-bahaya yang mungkin terkena kepadanya, inilah yang nantinya menjadi tanggung jawab seorang Ahli K3 Umum di manapun dia berada.

Apakah yang dimaksud dengan bahaya? Bahaya adalah suatu kondisi atau tindakan yang memiliki potensi untuk lepasnya (tidak direncanakan) atau kontaknya (tidak dikehendaki) kita dengan sumber energi yang dapat menimbulkan kerusakan atau kecelakaan pada manusia, peralatan atau lingkungan.

Ada setidaknya sepuluh potensi bahaya (hazard) di tempat kerja, yaitu gaya berat (gravity), gerakan mekanikal, eletrik/listrik, tekanan, temperatur (suhu), zat kimia, biologi, radiasi dan suara (bunyi)

Adapun penjelasan untuk sepuluh potensi bahaya tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Gaya Berat
Kekuatan atau daya akhibat gaya tarik bumi terhadap benda.
Contoh: Benda jatuh, atap runtuh dan orang tersandung atau terjatuh.

2. Gerakan
Perubahan posisi atau gerakan dari suatu benda atau zat
Contoh: Kendaraan, pemindahan bejana atau peralatan, aliran air, angin, dan gerakan badan (mengangkat beban, keseleo atau membungkuk)

3. Mekanikal
Energi yang terdapat pada komponen dalam sebuah sistem mekanis, seperti rotasi, vibrasi, geral dan hal lainnya, termasuk bagian statis dari peralatan/mesin.
Contoh: Alat berputar, per / pegas, tali, kipas, conveyor dan mesin.

4. Eletrikal
Keberadaan dan aliran arus listrik.
Contoh: Power line, transformer/ gardu, listrik statik, halilintar, peralatan beraliran listrik, kabel dan baterai.

5. Tekanan
Energi yang dihasilkan dari cairan atau gas yang telah dimampatkan atau divakum.
Contoh: Pipa bertekanan, tabung bertekanan, bejana, tangki, hose dan peralatan pneumatik/hidrolik.

6. Temperatur
Perbedaan ukuran energi panas dari sebuah benda atau lingkungan di mana badan manusia merasakannya sebagai panas atau dingin.
Contoh: Api, percikan api, permukaan panas atau dingin, uap, gesekan dan kondisi umum lingkungandan cuaca.

7. Zat Kimia
Energi yang terdapat dalam zat kimia, yang secara inheren atau melalui reaksi, memiliki potensi menimbulkan luka fisik atau gangguan kesehatan, lingkungan atau peralatan.
Contoh: Uap flammable, bahaya dari reaksi kimia, karsinogen atau senyawa beracun, korosif, gas combustible, udara rendah oksigen, asap las, debu dan sebaginya.

8. Biologi
Organisme hidup yang dapat menimbulkan bahaya.
Contoh: Binatang, bakteri, virus, serangga, pathogen, menangani bahan makanan dengan tidak bersih, air tercemar dan lain-lain.

9. Radiasi
Energi yang diemisikan dari zat radioaktif atau sumber alami yang mengandung radioaktif (NORM – Naturally Occuring Radioactive Materials) dan non pengion.
Contoh: Sinar las, radiasi matahari, microwaves, laser, sinar x, alat ukur NORM.

10. Suara
Bunyi dihasilkan bila ada gaya yang mengakhibatkan benda atau zat bergetar, di mana energi ditransfer dalam bentuk gelombang suara.
Contoh: Suara dari peralatan, suara dari benturan, vibrasi, lepasan aliran tekanan tinggi dan gangguan bising terhadap komunikasi.

Setiap orang atau tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional, sekali lagi kerja sama antara manajemen dan Ahli K3 Umum di perusahaan untuk membangun budaya K3 sangat perlu ditingkatkan. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin juga keselamatannya. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien. Oleh sebab itu, perlu diadakan segala daya dan upaya untuk membina norma-norma perlindungan kerja bagi setiap individu di dalam organisasi atau perusahaan. Pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.

Tingginya tingkat kompetisi dunia usaha dan dunia industry (DUDI) menumbuhkan paradigma baru tentang pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja atau yang sering kita kenal dengan sebutan K3 sebagai indikator tingkat kesejahteraan tenaga kerja dan berkorelasi langsung dengan kualitas tenaga kerja, peningkatan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan diterapkannya prinsip-prinsip dasar K3 Umum di kehidupan sehari-hari, baik di rumah, tempat kerja, lingkungan belajar dan tempat-tempat umum lainnya terutama bagi mereka yang telah mengikuti Sertifikasi Ahli K3 Umum, maka diharapkan mampu memberikan peran optimal dalam mengendalikan resiko kecelakaan kerja. Hal di atas tersebut juga menunjukan betapa pentingnya untuk mengikuti Sertifikasi Ahli K3 Umum dan Pelatihan Budaya Kerja 5R Kaizen untuk memperlengkapi tiap-tiap individu dalam menciptakan budaya kerja yang selamat dan sehat dalam kehidupan sehari-hari di manapun berada.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker Accelera Safety

.

Pelatihan 5R/5S Kaizen Accelera Safety

Membangun Budaya K3 Di Perkantoran Melalui Sertifikasi

By | News & Article | No Comments

Di zaman yang sudah maju dan berteknologi ini sangat menuntut wajib adanya pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam tiap kategori tempat kerja termasuk di sektor industri kesehatan. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan tindakan yang sifatnya mengembangkan dan meningkatkan K3 di sektor industri kesehatan untuk menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja dan meningkatkan produktifitas dan efesiensi kerja oleh pihak yang bertanggungjawab, salah satunya oleh Ahli K3 Umum.

Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 mengenai Kesehatan, di pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap jenis tempat kerja, terlbih lagi pada tempat kerja yang memunyai risiko bahaya kesehatan yang besar bagi para pekerja, sehingga para pekerja tersebut dapat bekerja denga kondisi sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktifitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja yang telah ditetapkan pemerintah.

Hal-hal yang berhubungan pelaksanaan K3 Perkantoran mencakup beberapa hal penting yang harus mendapatkan perhatian serius terkait dengan pelaksanaan K3 perkantoran, di mana berdasarkan lingkungannya dibagi menajadi dua yaitu indoor dan outdoor seperti yang diuraikan berikut ini:
1. Konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaannya
2. Jaringan elektrik dan komunikasi
3. Kualitas udara
4. Kualitas pencahayaan
5. Kebisingan
6.Tata ruang dan alat
7. Hygiene dan sanitasi
8. Psikososial
9. Pemeliharaan
10. Penggunaan Komputer

Dalam pelaksanaan K3 Perkantoran yang salah satunya dikoordinir oleh seorang Ahli K3 Umum sangat penting memperhatikan dua hal penting yakni lingkungan indoor dan outdoor, baik perhatian terhadap konstruksi gedung, perlengkapan gedung dan rangkaian operasional terhadap bahaya kebakaran dan kode pelaksanannya, maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, tata ruang dan alat, hygiene dan sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.

Dari gambaran besar di atas inilah kita dapat melihat betapa pentingnya setiap perusahaan memiliki minimal satu ahli K3 yang bertanggungjawab dalam membentuk budaya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja dalam hal ini kantor. Budaya K3 akan tercipta jika didahului dengan adanya penggerak dan pengontrol agar budaya tersebut tetap hidup di sebuah system organisasi. Tanpa adanya kesadaran dalam membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja di dalam sebuah system organisasi atau perusahaan, maka tingkat risiko kecelakaan atau penyakit kerja akan tetap tinggi, hal ini mengakhibatkan turunnya produktifitas kerja para pekerja dan produktifitas perusahaan secara keseluruhan.

Hal ini tentunya berdampak pada tingkat dan siklus hidup perusahaan. Dengan menurunnya produktifitas para pekerja akan membuat produktifitas perusahaan menurun. Jika dalam konteks perusahaan yang memproduksi suatu produk, maka layanan prosuk terhadap konsumen bisa menurun. Jika dalam konteks perusahaan jasa, maka tentunya akan sangat memengaruhi karena berhubungan langsung dengan manusianya, pelayanan jasa dapat menurun secara besar. Dengan kata lain, kesehatan dan keselamatan kerja itu tidak diperuntukan hanya kepada perusahaan atau organisasi tertentu dan atau hanya kepada orang-orang tertentu, melainkan kepada seluruh jenis organisasi dan kepada setiap orang. Di sinilah peran penting pimpinan sangat dituntut dalam menciptakan budaya. Dengan adanya program sertifikasi Ahli K3 Umum dari pemerintah, diharapkan dapat membantu terciptanya individu-individu dan organisasi-organisasi yang berbudaya selamat dan sehat dalam berkerja. Mari segera ikut Sertifikasi Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3 untuk memperlengkapi diri dan kompetensi Anda, sehingga budaya kesehatan dan keselamatan kerja semakin segera tercipata di lingkungan Anda.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

Budaya 5R – Kaizen

By | News & Article | No Comments

Best practice yang ditampilkan pada berbagai industri kelas dunia berasal dari banyak “best practices” dari penerapan 5R yang telah terbukti menjadi fondasi pembangunan industri yang kokoh dan masuk dalam kelas dunia. Kegiatan 5R terdiri atas pengertian tempat kerja yang Ringkas, Rapih, Resik, Rawat dan Rajin.

5R adalah kondisi tempat kerja yang siap pakai dan siap bertumbuh dari suatu industri. Kondisi ini tidak akan muncul begitu saja ketika suati industri dibangun karena untuk mengembangkannya diperlukan suatu usaha rekayasa budaya kerja. Rekayasa budaya kerja melibatkan perubahan pola pikir dari banyak orang yang terlibat dalam suatu industri sampai menghasilkan kebiasaan-kebiasaan yang positif di tempat kerja.

5R itu sendiri terdiri dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin.

Manfaat dari penerapan 5R:
1. Meningkatkan produktifitas karena pengaturan tempat kerja yang lebih efisien.
2. Meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan memiliki luasan yang memadai.
3. Mengurangi risiko bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang baik dan sehat.
4. Menambah penghematan waktu, tenaga, pikiran dan biaya karena menghilangkan berbagai pemborosan di tempat kerja.

Pelatihan 5R/5S Kaizen Accelera Safety

error: Content is protected !!
WhatsApp chat