fbpx
was successfully added to your cart.
Monthly Archives

April 2019

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen K3

By | News & Article, Uncategorized | 4 Comments

Prinsip-Prinsip Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Di Perusahaan

Paradigma Baru: 3 Perubahan (Paradigm Shift):
1. Dari pertumbuhan berdasarkan sumber daya menjadi berdasarkan inovasi.
2. Dari kelangkaan sumberdaya menjadi ketidak terbatasan ilmu.
3. Dari kemapanan ilmu menjadi daur manfaat ilmu yang lebih singkat.
Kunci sukses adalah keberlanjutan pembelajaran oleh individu dan perusahaan karena ilmu menjadi basis pertumbuhan.

Efek dari era pasar bebas adalah kesetaraan atau fairness dalam bisnis, tidak ada subsidi & social cost, pemenuhan ketentuan yang berlaku internasional seperti mutu, lingkungan dan keselamatan dan kesehatan kerja. Di tingkat internasional ILO, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak asasi pekerja. Jika tidak memenuhi ketentuan, makan akan ditolak dalam perdagangan internasional. Dengan implementasi K3, maka pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan akan tercipta, sehingga secara otomatis faktor pengendalian risiko pun dapat terlaksana yang akan membuat tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Prinsip-Prinsip Dalam Penerapan SMK3:
1. Prinsip 1 SMK3
Komitmen dan Kebijakan
– Kepemimpinan dan komitmen
– Posisi organisasi K3
– Anggaran, tenaga kerja, sarana
– Personil K3 (Ahli K3 Umum dan Ahli K3 lainnya dalam lingkup tanggung jawab/ wewenang/ kewajiban)
– Koordinasi
– Penilaian kinerja dan tindak lanjut

Tinjauan awal K3 meliputi:
– Bandingkan dengan pedoman
– Identifikasi bahaya
– Pemenuhan (compliance) peraturan
Benchmark
– Sebab/akibat kejadian dan gangguan terhadap K3 yang sebelumnya
– Efisiensi dan efektifitas sumber daya

Kebijakan K3
– Proses konsultasi
– Sosialisasi
– Tinjau ulang

Pada penerapan SMK3, komitmen dan kebijaksanaan dari kepemimpinan sangat penting. Pengusaha dan manajemen perlu segera menetapkan kebijakan K3, organisasi K3, anggaran, personil di Bidang K3 yang mencakup Ahli K3 Umum, Auditor SMK3 dan Ahli K3 lainnya, koordinasi perencanaan K3 dan penilaian kinerja dan tindak lanjut pelaksanaan K3.

Dalam penerapan SMK3, pencegahan merupakan suatu tahap dalam rangkaian sistem tersebut. Di dalam kebijakan yang dibuat akan mencakup pernyataan-pernyataan terkait kepatuhan terhadap Perundangan K3 yang relevan, peraturan yang berkaitan dan kriteria lain yang sifatnya penting, walau bukan aturan hukum, misal standarisasi.

Tinjauan awal Penerapan SMK3:
– Inventarisasi semua peraturan dan standar sesuai dengan operasi perusahaan.
– Inventarisasi pelaksanaan K3 yang telah dilakukan.
– Bandingkan apa yang telah dilaksanakan dengan ketentuan.
– Daftar kesenjangan antara ketentuan dan pelaksanaan.
– Bandingkan kondisi perusahaan dengan PERMENAKER Nomor 05/men/1996.
– Identifikasi sumber bahaya.
– Pemenuhan pengetahuan dan peraturan perundangan.
– Bandingkan dengan penerapan K3 yang lebih baik.
– Sebab akibat dari kejadian yang membahayakan.
– Efisiensi dan efektivitas sumber daya.

Pada penerapan SMK3, alat tinjauan awal yang dapat digunakan adalah
– Kuesioner
– Wawancara
– Kepustakaan
– Pemeriksaan dan pengukuran langsung
– Penilaian luar dan dalam
– Peninjauan ulang catatan
– Membandingkan kondisi perusahaan yang sejenis.

2. Prinsip 2 SMK3
Perencanaan yang dibuat perlu efektif dengan sasaran jelas dan dapat diukur, seperti berikut:
– Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian.
– Peraturan perundangan dan syarat lain.
– Tujuan dan sasaran, yaitu dapat diukur, indikator pengukuran yang tepat, sasaran pencapaian dan Jangka waktu pencapaian.
– Indikator kinerja.
– Perencanaan awal dan kegiatan mencakup sistem pertanggungjawaban dan sarana, serta jangka waktu pencapaian.

Pada tahap perencanaan perlu memperhatikan kesenjangan antara keharusan dan pelaksanaan, bandingkan dengan best practice/ benchmarking, rumuskan tujuan dan sasaran, rumuskan indikator kinerja dan rumuskan program. Tidak lupa juga memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Tanggung jawab manajemen terhadap K3 oleh Tim Ahli K3 Umum, manajemen dan seluruh karyawan.
– Identifikasi bahaya dan penilaian risiko.
– Pendokumentasian prosedur K3.
– Inspeksi K3 oleh TIm Ahli K3 Umum dan SMK3.
Pelatihan internal maupun eksternal baik dari seorang Ahli K3 Umum atau lembaga pelatihan.

3. Prinsip 3 SMK3
Dalam penerapannya perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
– Jaminan kemampuan yang meliputi sumber daya manusia dan dana, integrasi SMK3 dengan perusahaan, tanggung jawab dan tanggung gugat, konsultasi, motivasi dan kesadaran, pelatihan dan kompetensi.
– Kegiatan pendukung yang meliputi komunikasi, pelaporan, pendokumentasian, pengendalian dokumen, pencatatan dan manajemen informasi.
– Identifikasi bahaya atau penilaian dan pengendalian risiko yang meliputi perancangan dan rekayasa, administratif, kontrak, pembelian, prosedur keadaan darurat, insiden dan pemulihan keadaan darurat.
– Jaminan kemampuan yang meliputi kompetensi setiap tingkatan dan pekerjaan, sarana dan dana, prosedur memantau manfaat dan biaya integrasi, sistem manajemen perusahaan yang selaras dan seimbang, serta K3 tidak boleh dibaikan.
– Tanggung jawab dan tanggung gugat (responsibilty dan accountabily) yang meliputi langkah penetapan, dokumentasi dan mengkomunikasikannya, ada prosedur untuk memantau dan mengkomunikasikan dan reaksi cepat bila diperlukan.
– Pengurus yang meliputi tanggung jawab dalam memastikan penerapan yang sesuai dan mengenal kemampuan sumber daya manusia dan pendelegasiannya.
– Komunikasi 2 arah sangat penting untuk memberitahukan hasil peninjauan ulang SMK3, pemantauan dan audit, mengidentifikasi dan menerima informasi K3 yang diperlukan dari luar organisasi dan menjamin bahwa informasi yang berkaitan dapat disebarluaskan kepada orang di luar organisasi yang memerlukan.
– Pelaporan yang meliputi prosedur pelaporan internal, seperti pelaporan kejadian kecelakaan, pelaporan ketidak sesuaian, pelaporan kinerja K3 dan pelaporan identifikasi bahaya. Juga prosedur pelaporan eksternal, yaitu pelaporan yang dipersyaratkan peraturan perundangan dan pelaporan kepada pemegang saham.
– Dokumentasi yang terpelihara dengan adanya prosedur pembuatan dan penyimpanan serta personil yang berhak menerima, serta membuat intisari dokumentasi untuk membandingkan kebijakan, tujuan dan sasaran K3, menjelaskan cara mencapai tujuan K3, mendokumentasikan peranan, tanggung jawab dan prosedur inti, memberikan pengarahan bagi unsur sistem manajemen dan menunjukkan unsur sistem K3 yang sesuai dan telah dilaksanakan.
– Pelatihan dan kompetensi yang meliputi penggunaan standar kompetensi kerja yang telah dibuat, memeriksa uraian tugas dan jabatan, menganalisis tugas kerja, menganalisis hasil inspeksi dan audit, serta meninjau ulang laporan insiden baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

4. Prinsip 4 SMK3
Langkah Pengukuran Dan Evaluasi
– Inspeksi dan pengujian yang meliputi personil (keahlian dan pengalaman), catatan yang terpelihara dan tersedia, peralatan (metode untuk menjamin standar K3), perbaikan segera atas ketidaksesuaian, penyelidikan permasalahan insiden dan temuan yang dianalisis dan ditinjau ulang.
Audit SMK3 baik internal maupun eksternal audit oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.
– Perbaikan dan pencegahan.

5. Prinsip 5 SMK3
Tinjauan ulang dan peningkatan melingkupi hal-hal berikut ini:
– Evaluasi terhadap penerapan K3
– Tujuan dan sasaran kinerja K3
– Temuan audit
– Efektifitas penerapan, yaitu perubahan peraturan, tuntutan pihak terkait pasar, perubahan produk dan kegiatan, perubahan struktur organisasi, perkembangan IPTEK, pengalaman insiden, pelaporan dan umpan balik dari tenaga kerja.
.
.

Pelatihan Ahli K3 Umum Accelera Safety

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Penerapan PP Nomor 50 Tahun 2012 Accelera Safety

.

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

Jasa Konsultan Penerapan SMK3 & Audit Internal Accelera Safety

Sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U) KEMNAKER RI

By | News & Article | No Comments

Sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U) KEMNAKER RI

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI merupakan pelatihan dan sertifikasi yang dimaksudkan untuk memperlengkapi tiap-tiap individu untuk memahami lingkup K3 secara umum baik bagi kepentingan individu tersebut maupun untuk keperluan perusahaan dalam membangun budaya K3 di tiap sisi Negera Indonesia.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini tidak dimaksudkan untuk seseorang dapat dengan mudah untuk hanya sekedar mecari pekerjaan, walaupun memang salah satunya merupakan syarat bekerja di tiap industri untuk divisi HSE. Pemerintah juga memang mewajibkan untuk perusahaan memiliki setidak-tidaknya satu orang Ahli K3 Umum dan membentuk PPK3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker RI Nomor PER.04/MEN/1987 di perusahaan atau organisasi yang telah memiliki setidaknya seratus (100) karyawan atau jika perusahaan tersebut memiliki potensi bahaya yang besar. Hal ini pun semata-mata dibuat untuk membangun budaya K3 di tempat kerja yang besar harapannya menjadi budaya di tiap keluarga hingga skala nasional.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970, dengan majunya industrialisasi, mekanisasi, elektrifikasi dan modernisasi, maka dalam kebanyakan hal berlangsung pulalah peningkatan intensitas kerja operasional dan tempo kerja para pekerja. Hal-hal ini memerlukan pengerahan tenaga secara intensif pula dari para pekerja. Kelelahan, kurang perhatian akan hal-hal lain, kehilangan keseimbangan dan lain-lain merupakan akibat dari padanya dan menjadi sebab terjadinya kecelakaan. Bahan-bahan yang mengandung racun, mesin-mesin, alat-alat, pesawat-pesawat dan sebagainya yang serba pelik serta cara-cara kerja yang buruk, kekurangan ketrampilan dan latihan kerja, tidak adanya pengetahuan tentang sumber bahaya yang baru, senantiasa merupakan sumber-sumber bahaya dan penyakit-penyakit akibat kerja. Oleh sebab itu dapatlah difahami perlu adanya pengetahuan keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang maju dan tepat.

Selanjutnya dengan peraturan yang relevan akan dicapai keamanan yang baik dan realistis yang merupakan faktor sangat penting dalam memberikan rasa tentram, kegiatan dan kegairahan bekerja pada tenaga-kerja yang bersangkutan dan hal ini dapat meningkatkan mutu pekerjaan, meningkatkan produksi dan produktifitas kerja. Di sini kita dapat memahami bahwa keselatan dan kesehatan seseorang dalam bekerja adalah hal yang sangat penting karena keselamatan dan kesehatan kerja adalah hak asasi tiap orang.

Dari penjelasan di atas, dapatlah kita memahami pentingnya pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini. Hal ini berbicara tentang hal yang besar, lingkup yang menyeluruh, sehingga dapat menciptakan sistem integrasi yang lebih baik bagi banyak orang.

Adapun tujuan Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI ini adalah untuk memperlengkapi seorang Ahli K3 Umum agar mampu:

  • Menjelaskan tugas, wewenang dan tanggung jawab Ahli K3 Umum
  • Menjelaskan hak pekerja dalam bidang K3
  • Menjelaskan kepada pengusaha bahwa upaya K3 menguntungkan bagi perusahaan
  • Menjelaskan tujuan sistem manajemen K3 (SMK3)
  • Menjelaskan sistem pelaporan kecelakaan
  • Menganalisa kasus kecelakaan, mengetahui faktor penyebabnya dan dapat menyiapkan laporan kecelakaan kepada pihak terkait
  • Mengenal P2K3, tugas, tanggung jawab dan wewenang organisasi ini
  • Mengenal pembinaan dan pengawasan K3 di tingkat perusahaan, Nasional dan Internasional
  • Mengidentifikasi objek Pengawasan K3
  • Mengetahui Persyaratan dan pemenuhan tehadap peraturan perundangan di tempat kerja
  • Mengetahui persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
  • Mengetahui proses audit dan ruang lingkupnya untuk mengukur tingkat pencapaian

Ahli K3 umum di perusahaan dan di manapun dirinya berada merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah dalam mengawasi pekerjaan dan membangun budaya K3 agar sesuai dengan persyaratan perundang-undangan yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga dapat mengurangi risiko dan insiden, baik itu kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Setelah lulus dari sertifikasi ini individu akan memiliki wewenang yang telah diakui secara legal untuk menjadi Ahli K3 Umum di tempat kerjanya.

Untuk itu, mari segera daftarkan diri Anda untuk mengkuti Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI dan selanjutnya Anda dapat mengambil pelatihan kompetensi spesialis bidang Audit SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI.

Pelatihan Ahli K3 Umum Accelera Safety

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

 

Manajemen Risiko Di Perusahaan Atau Organisasi

By | News & Article | No Comments

Tujuan dari manajemen risiko adalah memberikan informasi berkaitan dengan kegiatan yang ada dalam manajemen risiko sesuai dengan tahapan-tahapannya yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

Sasaran manajemen risiko adalah
1. Menjelaskan pengertian dari manajemen risiko.
2. Menyebutkan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam manajemen risiko.
3. Melaksanakan kegiatan manajemen risiko di tempat kerja.
4. Mengendalikan risiko di tempat kerja dengan menggunakan prinsip manajemen risiko.

Secara umum manajemen risiko meliputi beberapa hal berikut ini:
1. SMK3 adalah suatu sistim manajemen dengan pendekatan berbasis pada manajemen/ pengendalian risiko.
2. Menerapkan SMK3 sama dengan mengurangi risiko di tempat kerja, yang mana biaya yang akan muncul akibat dari kecelakaan dan PAK, termasuk jamsostek, biaya medis, dan hilangnya produktifitas dapat dikurangi.
3. Banyak metode penilaian risiko (risk assesment) yang di kembangkan oleh berbagai organisasi/ perusahaan dan berbagai negara. Konsep terbaru penilaian risiko adalah ISO 31000.
4. Pada materi ini akan diberikan keterampilan melakukan penilaian risiko berdasarkan pada metode yang dikembangkan oleh Kemenakertrans yaitu Penilaian Risiko Lingkungan Kerja.

Pengertian istilah-istilah yang ada pada lingkup manajemen risiko, yaitu:
1. Aktifitas, yaitu proses atau sekumpulan proses yang dilakukan oleh suatu organisasi yang menghasilkan atau mendukung satu atau lebih produk atau jasa.
2. Identifikasi risiko (risk identification) yaitu proses untuk menemukan, mengenali dan mendeskripsikan risiko. Identifikasi risiko terdiri dari identifikasi sumber-sumber risiko, kejadian-kejadian, penyebab dan potensi konsekuensinya.
3. Identifikasi risiko dapat melibatkan data histori, analisis secara teori, opini ahli, dan kebutuhan stakeholders.
4. Kejadian (event) yaitu muncul atau berubahnya sekumpulan hal tertentu. Satu kejadian bisa berupa satu atau lebih kemunculan, dan bisa mempunyai beberapa sebab. Kejadian disebut juga sebagai insiden atau kecelakaan. Kejadian yang tidak mempunyai konsekuensi disebut sebagai ‘near miss’, ‘insident’, atau ‘close call’, ‘ hampir kena’.
5. Konsekuensi, yaitu hasil dari suatu kejadian yang berpengaruh pada tujuan berdasarkan ISO 31000:2015. Suatu kejadian dapat menyebabkan konsekuensi yang beragam. Konsekuensi dapat dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif. Konsekuensi bisa tertentu atau tidak-tentu dan dapat mempunyai efek positif atau negatif terhadap tujuan.
6. Penilaian risiko (risk analysis) yatiu proses memahami secara menyeluruh sifat dari risiko dan untuk menentukan tingkat risiko berdasarkan ISO 31000:2015. Penilaian risiko termasuk dalam mengestimasi risiko.
7. Peluang (likelihood) yaitu kemungkinan terjadinya sesuatu berdasarkan ISO 31000. Peluang (likelihood) bisa subjektif atau objektif, kualitatif atau kuantitatif.
8. Rating risiko, yaitu notasi huruf yang mencerminkan risiko yang ada dalam satu kelompok pekerja, perusahaan, badan usaha atau lembaga.
9. Risiko, yaitu kombinasi dari konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan peluang terjadinya kejadian tersebut berdasarkan OHSAS 18001-2007. Akibat (efek) dari ketidakpastian terhadap tujuan berdasarkan ISO 31000:20015. Ketidakpastian adalah keadaan dimana kekurangan informasi terkait, pemahaman atau pengetahuan dari suatu kejadian, konsekuensinya atau kemungkinannya.
10. Hazard atau sumber risiko, yaitu sumber, situasi, atau tindakan yang berpotensi mencederai badan atau mengganggu kesehatan manusia berdasarkan OHSAS 18001-2007. Elemen yang dapat berdiri sendiri atau merupakan kombinasinya yang berpotensi untuk terjadinya risiko berdasarkan ISO 31000:2009.
11. Manajemen Risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan akitivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review (peninjauan ulang) terhadap risiko.

Siapakah yang melakukan penilaian risiko?
Penilaian risiko dapat dilakukan antara lain oleh:
1. Pengawas ketenagakerjaan,
2. Manager atau supervisor atau ahli K3 Umum atau Auditor SMK3 di perusahaan yang bersangkutan,
3. Pihak ketiga yang memahami memahami MSDS/Label/informasi tempat kerja.

Adapun kualifikasi yang melakukan penilaian risiko adalah mereka perlu memahami peraturan perundang-undangan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan memiliki keahlian di bidang K3 seperti Ahli K3 Umum dan Audit SMK3.

Pemantapan Konteks Manajemen Risiko:
Konteks Strategi, yaitu penilaian internal dan eksternal unit
Konteks Organisasi, yaitu penilaian terhadap manajemen dan organisasi yang mana manajemen terlibat dalam pengambilan keputusan, terkait dengan kebijakan organisasi secara keseluruhan dan terkait dengan alokasi sumber daya, seperti personil, finansial, dan lain-lain.
Konteks Pengelolaan Risiko , yaitu penilaian terhadap ruang lingkup yg lebih besar hingga pemerintah.

Identifikasi Bahaya
Tahap pertama dalam kegiatan manajemen risiko di mana kita melakukan identifikasi bahaya yang terdapat dalam suatu kegiatan atau proses. Ada tiga pertanyaan yang dapat dipakai sebagai panduan:
1. Apakah ada sumber untuk menimbulkan cidera/loss?
2. Target apa saja yang terkena/terpengaruh bahaya?
3. Bagaimana mekanisme cidera/loss dapat timbul?

Pertanyaan lainnya adalah apakah ada sumber untuk menimbulkan cidera? Sumber bahaya ditempat kerja dapat berasal dari:
1. Bahan / material
2. Alat/mesin
3. Metode kerja
4. Lingkungan kerja

Jenis-Jenis Bahaya dan Risiko:
1. Fisika, seperti bising, radiasi, laser, cahaya dan lain-lain.
2. Kimia, seperti bahan-bahan kimia, limbah B3 dan lain-lain.
3. Ergonomi, seperti sistem kerja, angkat barang dan lain-lain.
4. Psikososial, seperti stress, kerja shift dan lain-lain.
5. Biologi, seperti serangga, bakteri, virus dan lain-lain.

Identifikasi Bahaya
Terget yang mungkin terkena atau terpengaruh sumber bahaya:
1. Manusia
2. Produk
3. Peralatan atau fasilitas
4. Lingkungan
5. Proses
6. Reputasi
7. Manusia
8. Dan target lainnya.

Teknik Identifikasi Bahaya
Banyak alat bantu yang dapat digunakan oleh Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3 atau yang diberi kewenangan untuk mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. Beberapa metode atau teknik tersebut adalah
1. Inspeksi
2. Pemantauan/survey
3. Audit
4. Kuesioner
5. Data-data statistik

Analisa dan Penilaian Risiko
Peluang (probability) yaitu kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan/kerugian ketika terpajan dengan suatu bahaya, seperti:
1. Peluang orang jatuh karena melewati jalan licin.
2. Peluang untuk tertusuk jarum.
3. Peluang tersengat listrik.
4. Peluang supir menabrak.

Langkah-Langkah Penilaian Risiko:
1. Langkah 1: Menemukan bahaya.
2. Langkah 2: Menentukan siapa yang bakal terkena risiko dan bagaimana.
3. Langkah 3: Melakukan evaluasi risiko dan menetapkan apakah kehati-hatian yang dilakukan sudah memadai atau harus lebih ketat lagi.
4. Langkah 4: Mencatat penemuan.
5. Langkah 5: Tinjau ulang penilaian dan perbaiki jika perlu.

Analisa dan Penilaian Risiko
Akibat (consequences) yaitu tingkat keparahan atau kerugian yang mungkin terjadi dari suatu kecelakaan/loss akibat bahaya yang ada. Hal ini bisa terkait dengan manusia, properti, proses, lingkungan dan lain-lain.
Contoh: Fatality atau kematian, cacat, perawatan medis dan P3K.

Acuan Dalam Penilaian Risiko
Agar penilaian yang kita lakukan seobyektif mungkin yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan Audit SMK3, maka perlu mengumpulkan informasi sebelum menilai resiko dari suatu akitifitas seperti berikut:
1. Informasi tentang suatu aktifitas (durasi, frekuensi, lokasi dan siapa yang melakukan)
2. Tindakan pengendalian risiko yang telah ada
3. Peralatan/mesin yang digunakan untuk melakukan aktifitas
4. Bahan yang dipakai serta sifat-sifatnya (MSDS)
5. Data statistik kecelakaan/penyakit akibat kerja (internal dan eksternal)
6. Hasil studi dan survey ataua pemantauan
7. Literatur
8. Benchmark pada industri sejenis
9. Penilaian pihak spesiality/tenaga ahli dan lain-lain

Analisa Risiko
Ada tiga cara dalam penilaian risiko, yaitu:
1. Kualitatif
Metode ini menganalisa dan menilai suatu risiko dengan cara membandingkan terhadap suatu diskripsi atau uraian dari parameter (peluang dan akibat) yang digunakan. Umumnya metode matriks yang akan dipakai.

2. Semi kuantitatif (contoh: pembobotan atau rangking)
Metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan analisa kualitatif, perbedaannya pada metode ini uraian atau deskripsi dari parameter yang ada dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu.

3. Kuantitatif
Metode ini dilakukan dengan menentukan nilai dari masing-masing parameter yang didapat dari hasil analisa data-data yang representatif. Analisa terhadap nilai peluang atau akibat dilakukan dengan beberapa metode seperti analisa statistik, model komputer, simulasi, fault tree analysis dan lain-lain, tergantung pada derajat risiko, sumberdaya yang tersedia untuk penilaian dan keakuratan data yang tersedia.

Penanganan Risiko
Berdasarkan penilaian risiko kemudian ditentukan apakah risiko tersebut masih bisa diterima (acceptable risk) atau tidak (unacceptable risk) oleh suatu perusahaan atau organisasi. Apabila risiko tersebut tidak bisa diterima, maka organisasi yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 harus menetapkan bagaimana risiko tersebut ditangani hingga tingkat di mana risikonya paling minimum atau sekecil mungkin. Bila risiko mudah dapat diterima atau ditolerir, maka organisasi perlu memastikan bahwa monitoring terus dilakukan terhadap risiko itu.

Risiko yang Bisa Diterima
Menentukan suatu risiko yang dapat diterima akan tergantung kepada penilaian atau pertimbangan dari suatu organisasi berdasarkan:
1. Tindakan pengendalian yang telah ada
2. Sumber daya (finansial, sumber daya manusia, fasilitas dan lain-lain)
3. Regulasi atau standard yang berlaku
4. Rencana keadaan darurat
5. Catatan atau data kecelakaan terdahulu dan lain-lain.
Catatan: walau suatu risiko masih dapat diterima tapi tetap harus dipantau atau dimonitor.

Penanganan Risiko
Bila suatu risiko tidak dapat diterima, maka harus dilakukan upaya penanganan risiko agar tidak menimbulkan kecelakaan atau kerugian. Bentuk tindakan penanganan risiko dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Hindari risiko
2. Kurangi atau meminimalkan risiko
3. Transfer risiko
4. Terima risiko

Hirarki Pengendalian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
1. Eliminasi
Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya

2. Substitusi
– Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
– Proses menyapu diganti dengan vakum
– Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
– Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan

3. Rekayasa Teknik
– Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
– Pemasangan general dan local ventilation
– Pemasangan alat sensor otomatis

4. Pengendalian Administratif
– Pemisahan lokasi
– Pergantian shift kerja
– Pembentukan sistem kerja
Pelatihan karyawan
– Alat Pelindung Diri
– Helmet
– Safety Shoes
– Ear plug/muff
– Safety goggles
– Masker
– Breathing apparatus dan lain-lain

Pemantauan dan Tinjauan Ulang
Setelah rencana tindakan pengendalian risiko dilakukan, maka selanjutnya perlu dipantau dan ditinjau ulang apakah tindakan tersebut sudah efektif atau belum. Bentuk pemantauan antara lain:
1. Inspeksi dan safety patrol
2. Pemantauan lingkungan kerja dan LH
3. Near miss report
4. Accident report
5. Pemeriksaan kesehatan
6. Audit

Pemantauan dan tinjauan ulang harus dilakukan karena akan selalu ada potensi hazard yang baru untuk setiap tempat kerja, hazard ini dapat disebabkan oleh:
1. Penggunaan teknologi, peralatan atau bahan-bahan dan produk baru.
2. Penerapan dari metode atau prosedur kerja baru (SOP baru)
3. Perubahan lingkungan kerja (perpindahan ke kantor yang berbeda, pengurangan staff, mutasi, rotasi , shift dan lain-lain.
4. Perubahan organisasi atau manajemen.
5. Mempekerjakan staff baru dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan yang berbeda.

Pelatihan-Pelatihan Manajemen Risiko di PJK3 Accelera Safety:

Integrated Management System Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Ahli K3 Umum Bonus 5 Sertifikat Kompetensi Accelera Safety

.

Penerapan PP 50 SMK3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Accelera Safety

.

5R/5S Kaizen Accelera Safety

Langkah-Langkah Analisa Kecelakaan Kerja dan Laporannya

By | News & Article | No Comments

Adapun langkah-langkah analisa kecelakaan kerja yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3, sebagai berikut:
1. Tanggap terhadap keadaan darurat dengan cepat dan positif segera ambil langkah pengamanan dan pengendalian di tempat kerja.
2. Kumpulkan informasi yang terkait.
3. Analisa semua fakta yang penting.
4. Kembangkan dan ambil tindakan perbaikan/pengendalian.
5. Membuat laporan analisis.

Hasil analisa kecelakaan kerja adalah
1. Pengelompokan Kecelakaan yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3
– Pengelompokan tingkat keparahan kecelakaan (mati, luka berat, luka Ringan)
– Luka Berat yaitu luka yang mengakibatkan cacat tetap, seperti kehilangan atau tidak berfungsinya salah satu atau beberapa organ tubuh atau gangguan jiwa.
– Luka Ringan yaitu luka yang memerlukan perawatan medis sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan tidak lebih dari satu hari.
– Pengelompokan daerah kerja
2. Sasaran Statistik Kecelakaan
– Mengetahui pandangan menyeluruh angka kecelakaan dari waktu ke waktu digunakan ukuran statistik kecelakaan yang umumnya terbagi dalam FR (Frequensi Rate) dan SR (Saverity Rate).

Parameter analisa kecelakaan bertujuan sebagai berikut:
1. FR bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus kecelakaan per 1.000.000 jam kerja orang produktif.
2. SR bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan/ kerugian akibat kecelakaan bagi perusahaan yang dikonversikan dalam jumlah hari yang hilang per 1.000.000 jam kerja orang produktif.
3. FR & SR sebagai tolok ukur kinerja K3 dengan melihat kecenderungan kedua angka tersebut
4. Angka 1.000.000 berarti jam kerja orang standar dengan perhitungan sesuai ILO, yaitu 50 minggu dikalikan 40 jam untuk setiap 500 orang TK.
5. Jumlah jam kerja orang didapatkan dari: (Jumlah TK dikalikan (x) hari kerja dikalikan (x) delapan jam) – hari kerja hilang dikalikan (x) 8 jam.
6. Jumlah hari kerja orang yang hilang adalah penjumlahan dari cuti, sakit, mangkir dan kecelakaan.
7. Perhitungan karena kecelakaan adalah sesuai konversi hari kerja hilang karena cacat anatomis atau cacat fungsi dan kematian akibat kecelakaan kerja atau untuk setiap luka ringan dengan tidak ada amputasi tulang kerugian hari kerja adalah sebesar jumlah hari sesungguhnya selama korban tidak mampu bekerja sesuai Lampiran II Keputusan Direktur Nomor Kep.84/BW/1998.

Laporan Pemeriksaan dan Pengkajian Kecelakaan:
1. Data umum:
– Identitas Perusahaan
– Informasi Kecelakaan
– Keterangan Lain

2. Data korban:
– Jumlah
– Nama
– Akibat kecelakaan
– Bagian Tubuh yang cidera

3. Fakta yang didapat:
– Kondisi yang berbahaya (kondisi tidak aman secara mekanik maupun fisik)
– Tindakan yang berbahaya (tindakan yang menyimpang dari prosedur)

4. Uraian terjadinya kecelakaan:
– Kronologis kejadian kecelakaan dari saksi yang ada atau kemungkinan terjadinya kecelakaan secara logika sesuai cara kerja.
– Hal-hal yang dapat mempengaruhi korban dalam melakukan pekerjaannya; misal: sakit, sters dan lain-lain.
– Mengungkapkan kejadian sesaat sebelum, saat terjadi, sesaat setelah kejadian kecelakaan (Sequent /rentetan kejadian)

5. Sumber kecelakaan:
– Pilihlah benda, bahan, zat atau pemapar lainnya yang tidak aman di tempat kejadian perkara (tempat kejadian perkara (TKP))
– Pilihlah benda/ zat/ alat yang kontak langsung dengan korban

6. Tipe kecelakaan dilihat berdasarkan proses terjadi hubungan kontak sumber kecelakaan dengan luka atau sakit yang diderita korban.

7. Penyebab kecelakaan yaitu dengan menganalisa dan menemukan tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman

8. Syarat-syarat yang diberikan adalah ekonomis, dapat dilakukan/dikerjakan, efektif dalam mencegah kecelakaan dan tidak mengganggu proses produksi.

9. Tindakan lebih lanjut adalah rekomendasi, tindakan berkaitan dengan jaminan sosial, penyelidikan/penyidikan dan pembinaan.

10. Hal-hal lain yang perlu dilaporkan adalah tindakan yang telah diambil oleh pihak manajemen, dampak terhadap lingkungan, peralatan atau tenaga kerja dan lain-lain.

Pelatihan Ahli K3 Umum (AK3U) Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI 2019 Accelera Safety

Analisa Kecelakaan Kerja Di Tempat Kerja

By | News & Article | No Comments

Pertanyaan Tentang Analisa Kecelakaan:
1. Apakah perusahaan mempunyai kebijakan K3 dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3?
2. Sejauh mana manajemen bertanggung jawab atas K3 (pengorganisasian dan partisipasinya)?
3. Sejauh mana manajemen mendelegasikan tanggung jawab K3 (Tim Ahli K3 Umum, SMK3, kepala bagian produksi, pengawas atau supervisor, pekerja)?
4. Apakah inspeksi rutin terlaksana dengan baik?
– Siapa yang bertanggung jawab?
– Siapa yang melaksanakan?
– Berapa kali diadakan?
– Kepada siapa inspeksi dilaporkan?
– Tindak lanjut inspeksi?
5. Cacatan kecelakaan apa saja yang disimpan?

Kategori Kecelakaan Kerja :
Kecelakaan kerja industri (industrial accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, adanya sumber bahaya atau bahaya kerja. Kecelakaan dalam perjalanan yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja dalam kaitannya dengan adanya urusan pekerjaan.

Pengertian kecelakaan kerja menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

Pengertian kecelakaan kerja menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, pasal 1 nomor 14 adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

Pengertian Kecelakaan berdasarkan Permenaker Nomor 03 Tahun 1998 adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga sejak semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Penyakit Akibat Kerja atau yang disingkat PAK adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Kejadian berbahaya lainnya adalah suatu kejadian yang berpotensi untuk dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja kecuali kebakaran, peledakan dan bahaya akibat pembuangan limbah.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, pada Pasal 11 menyebutkan bahwa:
1. Pengurus atau diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya kepada pejabat yg ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
2. Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan yang dapat dijelaskan oleh pimpinan perusahaan atau seorang Ahli K3 Umum.

Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan menurut Permenaker Nomor 3 Tahun 1998 adalah
1. Pasal 2
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 wajib melaporkan tiap kecelakaan anyg terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya.
– Kecelakaan yang dimaksud adalah kecelakaan kerja, kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah dan kejadian berbahaya lainnya.
2. Pasal 3
Pengurus/pengusaha yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya dalam program BPJS (Undan-Undang Nomor 24 Tahun2011)
3. Pasal 4
– Dilaporkan secara tertulis ke Kakandepnaker/ Kakadisnaker dalam waktu kurand dari atau sama dengan 2 x 24 jam sejak kejadian dengan formulir bentuk 3 KK2 A.
– Dapat dilaporkan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis.
4. Pasal 5
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang telah mengikut sertakan pekerjaannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan.
– Pengurus/pengusaha yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang belum mengikut sertakan pekerjaannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

Tujuan pelaporan kecelakaan adalah agar pekerja mendapatkan haknya dalam bentuk jaminan dan tunjangan, serta agar dapat dilakukan penyidikan dan penelitian serta analisa untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa.

Analisa Kecelakaan
1. Setiap kecelakaan harus dilaporkan dan dilakukan pemeriksaan dan pengkajian agar dapat dilakukan analisa kecelakaan yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.
2. Analisa yang dilakukan oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 untuk mengetahui penyebab kecelakaan dan mengetahui akibat kecelakaan, serta langkah apa yang perlu diambil.
3. Maksud utama analisa kecelakaan adalah memberi jawaban mengapa kecelakaan terjadi (diungkap sebab sesungguhnya) dan ditentukan upaya pencegahannya.

Tujuan analisa kecelakaan adalah karena analisa kecelakaan kerja yang efektif harus dapat menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, menentukan sebab apa yang sebenarnya, mengukur risiko, mengembangkan tindakan kontrol, menentukan kecenderungan (trend) dan menunjukkan peran serta.

Apa yang dianalisa? Yang dianalisa adalah setiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, meliputi kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, peledakan, kebakaran, bahaya, pembuangan limbah dan kejadian bahaya lainnya.

Siapakah yang menjadi petugas analisa, yaitu petugas yang berwenang dan memunyai kemampuan dan keahlian untuk tugas tersebut, yang dalam hal ini dapat diwakili oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3, pengawas kerja lini (line supervisor) dan atau dapat dilakukan oleh manajer.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 Sertifikasi KEMNAKER RI Accelera Safety

Ergonomi dan K3

By | News & Article | No Comments

Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3 Umum) adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat (Silalahi, 1995)

Ergonomi dan Kesehatan & Keselatan Kerja (K3) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life)

Ergonomi berasal dari kata ergon: kerja dan nomos: peraturan/hukum
Pengertian Ergonomi:
Ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin.

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari perancangan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia, sistem orang dan mesin, peralatan yang dipakai manusia agar dapat dijalankan dengan cara yang paling efektif termasuk alat – alat peragaan untuk memberi informasi kepada manusia.
(Sutalaksana :”Teknik Tata Cara Kerja”).

Sikap Kerja Ergonomis:
1. Menghindarkan sikap yang tidak alamiah dalam bekerja.
2. Beban statis menjadi seminimal mungkin.
3. Pembuatan/penentuan kriteria dan ukuran baku peralatan kerja (meja, kursi dll)
4. Dilakukan sikap berdiri dan duduk secara bergantian.

Kelelahan adalah keadaan tenaga kerja yang mengakibatkan terjadinya penurunan vitalitas dan produktifitas kerja akibat faktor pekerjaan.

Jenis Kelelahan:
1. Kelelahan Otot
Gejala yang terjadi adalah berkurangnya tekanan fisik, makin rendahnya gerakan, meningkatnya kesalahan dan lain-lain.
2. Kelelahan Umum
Gejala yang terjadi yaitu kelelahan seluruh tubuh, kelelahan mental, kelelahan syaraf dan lain-lain.

Faktor-Faktor Penyebab Kelelahan:
1. Intensitas dan durasi kerja fisik dan mental
2. Lingkungan kerja
3. Irama metabolisme tubuh
4. Masalah Psikologis
5. Penyakit
6. Gizi tidak memadai
7. dan lain-lain

Posisi yang menghasilkan kelelahan, misalnya :
Mengangkat berulang-ulang pada posisi yang mengharuskan pekerja mendongkak
Pekerjaan dengan objek yang letaknya diatas kepala pekerja dan dalam waktu yang lama
Posisi tubuh membungkuk untuk waktu cukup lama

Pencegahan terhadap kelelahan
1. Menggunakan secara benar waktu istirahat kerja
2. Melakukan koordinasi yang baik antara pimpinan dan karyawan
3. Mengusahakan kondisi lingkungan kerja sehat, aman, nyaman dan selamat
4. Mengusahakan sarana kerja yg ergonomis
5. Memberikan kesejahteraan dan perhatian yg memadai
6. Merencanakan rekreasi bagi seluruh karyawan

CTD (Cummulative Trauma Disorder)
Trauma dari keadaan yang tidak teratur
Muncul karena terkumpulnya kerusakan kecil akibat trauma berulang yang membentuk kerusakan cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit.

Trauma jaringan timbul karena:
1. Overexertion
Proses penggunaan berlebihan
2. Overstretching
Proses peregangan berlebih
3. Overcompression
Proses penekanan berlebih

Pencegahan dan Pengendalian Bahaya
Menghilangkan, mengurangi, atau mengontrol adanya faktor risiko:
1. Pengendalian secara Teknik
2. Pengendalian secara Administrasi
3. Desain Kantor Kerja
4. Pelatihan

1. Pengendalian secara Teknik
Teknik kontrol atau teknik adalah mekanisme yang lebih disukai untuk mengendalikan bahaya ergonomis. Ini mungkin memerlukan merancang ulang stasiun kerja, metode kerja, dan alat untuk mengurangi tuntutan pekerjaan, seperti tenaga, pengulangan dan posisi yang aneh. Ini seharusnya diprakarsai oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

2. Pengendalian secara Administrasi
– Penggantian personil untuk pekerjaan dengan persyaratan fisik yang berbeda.
– Membuat jadwal kerja / jadwal istirahat istirahat.
– Pelatihan personil untuk menggunakan metode kerja yang sesuai/yang cocok.

3. Desain Kantor Kerja
Kantor kerja harus mudah disesuaikan untuk mengakomodasi pekerja dalam melakukan tugas. Dalam perencanaan desain tempat kerja dapat meminta masukan dari Tim Ahli K3 Umum dan SMK3.

4. Pelatihan
– Pelatihan harus memungkinkan setiap orang untuk mengenali faktor risiko dan memahami prosedur yang digunakan untuk meminimalkan resiko.
– Pelatihan penyegaran harus disediakan setiap tahun dan pelatihan ulang harus dilakukan ketika personil ditugaskan ke pekerjaan baru dengan risiko yang berbeda, atau risiko baru ditemukan.
– Pelatihan K3, baik itu seorang diikutkan dalam Pelatihan Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3, maupun pelatihan bagi karyawan oleh tim internal Ahli K3 Umum dan SMK3 (PPK3)

Prinsip Penerapan Ergonomi
1. Bentuk dan ukuran alat serta fasilitas agar disesuaikan dng bentuk dan ukuran tubuh tenaga kerja
2. Menghindari kontraksi statis sedapat mungkin tak melebihi lima belas persen kekuatan maksimal
3. Usahakan posisi dan sikap tubuh yg alamiah waktu bekerja
4. Sedapat mungkin menghindari sikap berdiri diam saat bekerja
5. Pengaturan irama kerja agar sesuai dengan irama pemulihan

Penerapan ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya.

Disadur dari Mata Kuliah K3 Tahun 2011, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Negeri Malang.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan budaya Kerja 5R 5S Kaizen Accelera Safety

Kepemimpinan Pada Basis K3 (Safety Leadership)

By | News & Article | No Comments

Kepemimpinan Keselamatan (safety leadership) didefinisikan sebagai proses mendefinisikan keadaan yang diinginkan, membentuk tim Ahli K3 Umum dan SMK3 untuk berhasil, dan terlibat dalam upaya diskresi yang mendorong nilai keselamatan, yang secara luas bermuara pada keterlibatan dalam dan mempertahankan perilaku yang membantu orang lain mencapai tujuan keselamatan kita.

Penyelarasan nilai mendorong orang untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas keselamatan dengan menetapkan harapan untuk setiap lapisan (manajemen senior atau menengah, ahli K3 umum, auditor SMK3 dan karyawan) yang terkait dengan tujuan yang jelas. CEO menguraikan visinya dan manajer senior menentukan bagaimana menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata.

Sistem & pemantauan menempatkan sistem manajemen risiko atau keselamatan yang diprakarsai oleh Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang kuat yang mencakup (tetapi tidak terbatas pada) pemeliharaan preventif, prosedur operasi, inspeksi, izin untuk melakukan pembicaraan keselamatan sistem kerja, komite keselamatan, penilaian risiko, pelaporan nyaris tak terduga dan pelatihan.

Pendidikan & Kesadaran memberikan pelatihan kepemimpinan keselamatan sehingga kepemimpinan keselamatan menjadi nilai perusahaan. Penilaian efektifitas strategi pelatihan berkisar di sekitar karyawan yang secara nyata mengamati komitmen kepemimpinan dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 terhadap tempat kerja yang aman dan para pemimpin di organisasi menjadi lebih berpengetahuan tentang keselamatan dengan manajemen lini menerima tanggung jawab keselamatan mereka.

Menunjukkan Kepemimpinan yang terlihat dapat mendorong tim manajemen (dari yang paling senior ke bawah) dan Ahli K3 Umum, serta Tim SMK3 untuk menunjukkan komitmen kepemimpinan yang terlihat ke tempat kerja yang aman.

Tujuh Praktik Terbaik untuk Pemimpin
Pemimpin, walaupun terbatas dalam kemampuan mereka untuk memberlakukan hal-hal khusus dari pekerjaan sehari-hari, membuat keputusan tentang sumber daya dan arahan organisasi – dan berdampak pada budaya dan iklim di mana kegiatan keselamatan harus terjadi.

1. Visi – Pemimpin yang efektif mampu “melihat” seperti apa bentuk keselamatan itu dan menyampaikan visi itu dengan cara yang meyakinkannya di seluruh organisasi terutama dalam menerjemahkan dan bekerja sama dengan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3. Pemimpin ini bertindak dengan cara yang mengomunikasikan standar pribadi yang tinggi dalam hal keselamatan, membantu orang lain mempertanyakan dan memikirkan kembali asumsi mereka tentang keselamatan, dan menggambarkan gambaran yang meyakinkan tentang seperti apa masa depan.
2. Kredibilitas – Pemimpin yang efektif memupuk tingkat kepercayaan yang tinggi pada rekan-rekan dan laporannya. Pemimpin ini bersedia mengakui kesalahan dengan orang lain, mengadvokasi untuk laporan langsung dan kepentingan kelompok, dan memberikan informasi yang jujur ​​tentang keselamatan bahkan jika itu tidak diterima dengan baik.
3. Kolaborasi – Pemimpin yang efektif bekerja dengan baik dengan orang lain, mempromosikan kerja sama dan kolaborasi dalam keselamatan, secara aktif mencari masukan dari orang-orang tentang masalah yang mempengaruhi mereka, dan mendorong orang lain untuk mengimplementasikan keputusan dan solusi mereka untuk meningkatkan keselamatan.
4. Komunikasi – Pemimpin yang efektif adalah komunikator yang hebat. Ia mendorong orang untuk melakukannya
berikan informasi yang jujur ​​dan lengkap tentang keamanan bahkan jika informasi itu tidak menguntungkan. Pemimpin ini membuat orang mendapat informasi tentang gambaran besar dalam keselamatan, dan berkomunikasi secara sering dan efektif di atas, di bawah, dan di seluruh organisasi.
5. Orientasi Tindakan – Pemimpin yang efektif lebih proaktif daripada reaktif dalam menangani masalah keselamatan. Pemimpin ini memberikan tanggapan yang tepat waktu dan dipertimbangkan untuk masalah keselamatan, menunjukkan rasa urgensi pribadi dan energi untuk mencapai hasil keselamatan, dan menunjukkan fokus yang didorong kinerja dengan memberikan hasil dengan kecepatan dan keunggulan.
6. Umpan Balik & Pengakuan – Pemimpin yang efektif pandai memberikan umpan balik dan mengenali orang-orang atas prestasi mereka. Orang ini secara terbuka mengakui kontribusi orang lain, menggunakan pujian lebih sering daripada kritik, memberikan umpan balik positif dan pengakuan untuk kinerja yang baik, dan menemukan cara untuk merayakan pencapaian dalam keselamatan.
7. Pertanggungjawaban – Dia memberi orang penilaian yang adil atas upaya dan menghasilkan keselamatan, dengan jelas mengomunikasikan peran orang dalam upaya keselamatan, dan menumbuhkan perasaan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tingkat keselamatan di unit organisasi mereka.

Mentalitas nihil kecelakaan adalah budaya nihil kecelakaan (zero injury) yang menanamkan keyakinan bahwa cedera dan kematian tidak dapat diterima, tidak boleh dimaafkan, dan tidak hanya dapat dikurangi, tetapi sebenarnya dapat dicegah. Pergeseran budaya ini diperlukan di tingkat proyek, perusahaan dan industri, serta dalam pemikiran dan tindakan setiap karyawan, terutama oleh dan kepada Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 di perusahaan tersebut.

Apa yang diperlukan untuk menjadikan filosofi ini kenyataan? Kepemimpinan bersama Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 bertekad untuk mengubah sikap yang berlaku yang merasionalisasi kematian dan cedera sebagai aspek yang tidak menguntungkan dari industri konstruksi dan biaya untuk melakukan bisnis.

Budaya tanpa cedera secara langsung memengaruhi sikap dan perilaku keselamatan, termasuk apakah karyawan mengenakan APD, mengabaikan instruksi pelatihan dan / atau mengambil jalan pintas keselamatan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Kuisioner budaya:
1. Apakah tim manajemen senior bersama ahli K3 umum dan SMK3 perusahaan Anda mengoperasionalkan komitmen keselamatan dan menunjukkan keterlibatan dalam mengelola proses dengan menangani keselamatan sebagai disiplin strategis inti yang berdampak positif terhadap pelaksanaan kinerja perusahaan dan proyek?
2. Apakah pengawas (Ahli K3 Umum, SMk3, management representative dan karyawan perusahaan Anda pada dasarnya percaya bahwa semua kecelakaan dan cidera dapat dicegah atau apakah mereka percaya bahwa kecelakaan dan cedera adalah bagian dari bekerja di industri konstruksi?
3. Apakah perusahaan Anda dikenal memiliki program keselamatan dan Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 yang kuat dengan perhatian yang ketat terhadap keselamatan atau apakah keselamatan diketahui memiliki kursi belakang terhadap tekanan produksi?
4. Apakah sikap perusahaan Anda melalui perwakilannya (Tim Ahli K3 Umum dan SMK3) terhadap keselamatan menganggapnya sebagai kejahatan yang perlu yang menurunkan produktivitas atau sebagai proses vital yang berdampak positif terhadap produktivitas dan profitabilitas dengan mempertahankan tenaga kerja yang sehat?
5. Apakah kinerja keselamatan dipandang sebagai tanggung jawab petugas keselamatan perusahaan (Tim Ahli K3 Umum dan SMK3) atau menjalankan praktik kerja yang aman menjadi tanggung jawab setiap karyawan?
6. Apakah perusahaan Anda memiliki budaya yang memaafkan atau menghilangkan jalan pintas keselamatan?
7. Apakah perusahaan Anda melibatkan semua karyawan dalam proses keselamatan, termasuk melakukan pengamatan keselamatan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kondisi yang tidak aman dan perilaku “berisiko” atau hanya Tim Ahli K3 Umum dan SMK3nya yang tergabung dalam PPK3?
8. Apa reputasi perusahaan Anda untuk keselamatan di antara perusahaan peer group?
9. Apakah keselamatan yang dibuktikan dengan adanya Tim Ahli K3 Umum dan SMK3 merupakan aspek penting dari citra dan reputasi merek perusahaan Anda?
10. Apakah tim manajemen senior Anda rela “all-in” untuk keselamatan dan kesejahteraan karyawannya dengan menjadikannya nilai inti perusahaan?

Apa yang dapat saya lakukan?
1. Tunjukkan komitmen
2. Staf untuk keselamatan
3. Perencanaan (pra-pekerjaan atau pra-tugas)
4. Mendukung dan menyediakan waktu untuk pelatihan
5. Dorong keterlibatan pekerja
6. Evaluasi, lalu kenali / hadiah
7. Berpartisipasi dalam investigasi kecelakaan / insiden
8. Pastikan tempat kerja yang bebas dari narkoba / alkohol

Perangkap Umum:
1. Disiplin: Inkonsistensi, pesan campuran, bias atribusi, menggunakan disiplin sebagai pencegah, pemahaman dangkal.
2. Kembalikan ke cara lama karena tekanan penjadwalan, biaya, lebih mudah
3. Kehilangan momentum
4. Tetap termotivasi

dari sinilah kita dapat melihat betapa penting sosialisasi oleh seorang Ahli K3 Umum dan Auditor SMK3 di perusahaan menjadi sangat penting untuk kemajuan perusahaan tersebut dan zero accident.

Diterjemahkan oleh Accelera Safety dari Neca – Safety Professionals Conference 2015

Pelatihan Budaya Kerja 5R 5S Kaizen + Safety Leadership Accelera Safety

.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Pelatihan QHSE SHEQ Quality, Health, Safety, and Environment Accelera Safety

IMS/QMS/QHSE Memberikan Gambar Besar Inetgrasi Sistem Untuk Bagaimana Meningkatkan Mutu Perusahaan

By | Uncategorized | No Comments

Manajemen mutu pada rangkaian QHSE (quality, health, safety and environment) memiliki fokus utama yaitu perbaikan proses. Seringnya, banyak variasi dalam suatu proses disebabkan oleh sistem, bukan individu, kerja tim merupakan bagian integral dari manajemen kualitas, kepuasan pelanggan adalah tujuan utama, transformasi organisasi diperlukan, ketakutan harus dihilangkan dari organisasi dan biaya kualitas lebih tinggi lebih sedikit, bukan lebih banyak.

Prinsip Manajemen Mutu:
1. Fokus pelanggan
2. Kepemimpinan
3. Keterlibatan orang
4. Pendekatan proses
5. Pendekatan sistem untuk manajemen
6. Perbaikan terus menerus
7. Pendekatan faktual untuk pengambilan keputusan
8. Hubungan pemasok yang saling menguntungkan

Strategi IMS/QMS terbaik adalah selama semua fase siklus hidup proyek, perhatian utama haruslah kualitas, keamanan dan kinerja lingkungan dari layanan atau produk yang disediakan.

Sistem manajemen berarti apa yang dilakukan organisasi untuk mengelola prosesnya, atau kegiatannya agar produk atau layanannya memenuhi tujuan organisasi, seperti memenuhi persyaratan kualitas pelanggan, mematuhi peraturan, atau memenuhi tujuan lingkungan.

Agar benar-benar efisien dan efektif, organisasi dapat mengelola caranya melakukan sesuatu dengan membuat sistem itu. Tidak ada yang penting yang ditinggalkan. Setiap orang perlu jelas memahami tentang siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan apa, kapan, bagaimana, mengapa dan di mana. Standar sistem manajemen memberi organisasi suatu model internasional yang mutakhir untuk diikuti.

Organisasi besar, atau yang memiliki proses rumit, tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa sistem manajemen. Perusahaan di bidang seperti dirgantara, mobil, pertahanan, atau perangkat perawatan kesehatan telah mengoperasikan sistem manajemen selama bertahun-tahun. Standar sistem manajemen ISO 9001 dan ISO 14001 sekarang membuat praktik sukses ini tersedia untuk semua organisasi.

Baik ISO 9001 dan ISO 14001, keduanya berkonsentrasi pada hal yang menyangkut cara organisasi tersebut menjalankan operasionalny. Mereka bukan standar produk. Mereka bukan standar layanan. Mereka adalah standar proses. Mereka dapat digunakan oleh produsen produk dan penyedia layanan.

Proses mempengaruhi produk atau layanan akhir. ISO 9001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang memengaruhi kualitas produk dan layanannya. ISO 14001 memberikan persyaratan untuk apa yang harus dilakukan organisasi untuk mengelola proses yang mempengaruhi dampak kegiatannya terhadap lingkungan.

Manfaat IMS/QMS/QHSE:
1. Konsensus internasional, pakar tentang praktik mutakhir untuk kualitas dan pengelolaan lingkungan.
2. Bahasa umum untuk berurusan dengan pelanggan dan pemasok di seluruh dunia dalam B2B.
3. Tingkatkan efisiensi dan efektivitas.
4. Model untuk perbaikan berkelanjutan.
5. Model untuk memuaskan pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya.
6. Bangun kualitas menjadi produk dan layanan mulai dari desain dan seterusnya.
7. Mengatasi masalah lingkungan dari pelanggan dan publik, dan mematuhi peraturan pemerintah.
8. Integrasikan dengan ekonomi global.
9. Bisnis yang berkelanjutan.
10. Basis pemersatu untuk sektor industri.
11. Pemasok yang memenuhi syarat untuk rantai pasokan global.
12. Dukungan teknis untuk peraturan yang akan diberlakukan di perusahaan atau oragnisasi.
13. Transfer praktik yang baik ke negara-negara berkembang
14. Alat untuk pemain ekonomi baru
15. Integrasi regional
16. Memfasilitasi peningkatan layanan
17. Satu klausa dapat menggambarkan semua persyaratan serupa pada semua sistem manajemen terkait
18. Evaluasi lebih mudah dilakukan, karena satu klausa sudah memiliki semua aspek terkait untuk ditinjau
19. Lebih mudah untuk mengontrol dokumen
20. Setiap orang, terlebih tim Ahli K3 Umum dan SMK3, di dalam perusahaan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kualitas, lingkungan, kesehatan, keselamatan, keamanan dan pengembangan masyarakat.

Pada umumnya, aspek mutu dari IMS/QMS/QHSE akan mengacu pada ISO 9001:2015, aspek lingkungan akan mengacu pada ISO 14001:2015 dan aspek keselamatan dan kesehatan kerja mengacu pada ISO 45001.
Aplikasi dari tiga sistem (IMS/QHSE) tersebut di organisasi seringnya dilakukan secara terpisah yang dapat berdampak pada bertambahnya beban perusahaan selain dapat terjadinya ketidakefisienan pada sistem dokumentasi yang berlaku di oraganisasi tersebut. Di sinilah kita dapat melihat betapa pentingnya pemahaman dan penguasaan terhadap integrasi (QHSE/IMS) dari sistem ISO 9001:2015, ISO 14001:2015 dan ISO 45001, serta penguasaan strategi dan teknik pembuatan berbagai dokumentasinya yang menjadi sangat penting untuk implementasi yang sukses dan berhasil. Pelatihan QHSE/IMS/QHSE ini sangat penting agar tiap individu dapat melihat gambaran besar atau jahitan dari integrasi sistem-sitem tersebut dalam meningkatkan mutu perusahaan.

Pelatihan QHSE SHEQ (quality health safety environment) IMS (integrated management system) Accelera Safety

 

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

Budaya Kerja 5R Sebagai Pembangun Industri Kelas Dunia

By | News & Article | No Comments

Pengertian 5R atau di Jepang dikenal dengan sebutan 5S ialah cara untuk mengatur atau mengelola tempat kerja menjadi tempat kerja yang lebih baik secara berkelanjutan. Penerapan 5R bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas di tempat kerja. Penerapan 5R bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas di tempat kerja, serta menjadi cikal bakal terbentuknya budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Manfaat penerapan 5R di tempat kerja di antaranya untuk meningkatkan produktifitas kerja karena pengaturan tempat kerja yang lebih efisien, meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan menjadi luas, mengurangi bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang bagus/baik dan meningkatkan penghematan karena menghilangkan berbagai pemborosan di tempat kerja.

Best practice yang ditampilkan pada berbagai industri kelas dunia berasal dari banyak “basic practices” penerapan 5R yang telah terbukti menjadi fondasi pembangunan industri yang kokoh dan masuk dalam kelas dunia. Kegiatan 5R terdiri atas pengertian tempat kerja yang Ringkas, Rapih, Resik, Rawat dan Rajin.

Ringkas berarti memisahkan dan menyingkirkan barang yang tidak perlu dari tempat kerja.

Rapi adalah tindakan mengatur dan menyusun tata letak peralatan dan perlengkapan kerja agar selalu siap pada saat diperlukan.

Resik merupakan langkah membersihkan tempat kerja dan senantiasa melaksanakan kebersihan.

Rawat adalah proses mempertahankan langkah Ringkas, Rapi dan Resik.

Rajin adalah tahap di mana menjadikan empat langkah di atas tersebut sebagai suatu kebiasaan atau gaya hidup.

Melalui pengetahuan dan penerapan 5R ini tiap orang akan menyadari dan memeluk nilai budaya tentang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Penerapan kegiatan 5R secara berkala akan menjamin berkembangnya budaya industri. Banyak perusahaan yang menikmati kenaikan produktifitas setelah mulai melaksanakan kegiatan 5R. Bagi perusahaan bidang jasa seperti pariwisata, rumah sakit, hotel, restoran, bank dan kantor pelayanan masyarakat, 5R merupakan nilai dan kegiatan wajib untuk diterapkan dalam rangkaian proses kerja.

Masalah-masalah yang sering terjadi pada kehidupan manusia sehari-hari berkisar pada seringnya terjadi cacat atau kesalahan pada hasil pekerjaan, adanya pemborosan waktu akibat sulit mencari barang dan tidak siap memakai peralatan kerja, adanya pemborosan waktu pada penggunaan alat-alat akibat dari kurang pemeliharaan peralatan, terjadinya kecelakaan kerja akhibat lingkungan kerja yang tidak memadai dan kesehatan karyawan terganggu akhibat lingkungan kerja yang tidak sehat. Sudah sangat tentu bahwa 5R ini sangat berhubungan erat dengan kesehatan dan keselamatan kerja yang dikerjakan oleh Tim Ahli K3 umum dan SMK3 di tempat kerja.

Manfaat dari budaya kerja berbasis 5R adalah terciptanya tempat kerja yang bersih dan menyenangkan, terawatnya peralatan, perlengkapan kerja serta bangunan, terwujudnya disiplin yang dibutuhkan untuk mencapai standar kerja, adanya efisiensi pada masing-masing bagian, adanya saling menghargai antar karyawan dan terbentuknya habitat budaya dan lingkungan K3.

Dengan diterapkannya 5R ini, maka sudah bisa dipastikan bahwa produktifitas suatu perusahaan akan meningkat dan tingkat kepuasan konsumen pun akan terdampaki. 5R merupakan kegiatan yang dilakukan oleh semua orang, baik dari level top manajemen hingga karyawan suatu perusahaan. Ini merupakan komitmen dari pimpinan tertinggi suatu perusahaan untuk meningkatkan taraf perusahaannya ke kancah internasional. Oleh karena 5R ini merupakan gaya hidup atau budaya, sudah sangat jelas bahwa karyawan-karyawan perusahaan perlu mendapatkan model dari pimpinan mereka dalam membangun budaya 5R tersebut. Ini menjadi tantangan besar bagi para pemimpin perusahaan, namun sekaligus juga menjadi nilai tambah bagi karyawan, perusahaan dan lebih lagi bagi konsumen.

Demikianlah pentingnya pengetahuan 5R ini bagi setiap individu, pengetahuan perlu dimiliki agar dapat mengarahkan tiap individu dalam mengambil tindakan, salah satunya melalui Pelatihan Budaya Kerja 5R Kaizen yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan resmi dan berkompeten.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

.

Pelatihan 5R 5S Kaizen Accelera Safety

Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Bidang Konstruksi

By | News & Article | No Comments

Seperti yang sudah disinggung pada artikel sebelumnya mengenai Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) yang mana telah dijelaskan bahwa Sistem Manajemen K3 dan Ahli K3 Umum adalah bagian dari sistem manajamen perusahaan secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi:
1. Pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3.
2. Dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja.
3. Guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Adapun pada artikel ini akan dijelaskan bagaimana penerapan SMK3 oleh Tim SMK3 dan Ahli K3 Umum pada bidang konstruksi. Sebelum masuk pada spesifikasi SMK3 Konstruksi, artikel ini akan memberi sedikit pendahuluan tentang ranah konstruksi.

Pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan yang banyak menggunakan berbagai peralatan canggih dan manual dalam pengerjaannya. Peralatan ini digunakan pada pelaksanaan pekerjaan di lahan yang luas dalam berbagai jenis kegiatan, sehingga menyebabkan risiko tinggi terhadap kecelakaan. Di samping peralatan, kurangnya pengetahuan pekerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), kepedulian dalam hal pengawasan K3 juga dan peran seorang Ahli K3 Umum menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja.

Hingga saat ini kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja belum mendapatkan perhatian yang serius dari dan oleh semua pihak, kecalakaan kerja yang terjadi masih tinggi, pelaksanaan pengawasan masih bersifat parsial dan belum menyentuh aspek manajemen, seperti rendahnya komitmen pimpinan perusahaan dan seorang Ahli K3 Umum dalam hal K3 dan kualitas tenaga kerja terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja.

Tujuan penerapan SMK3 semata-mata demi kebaikan perusahaan dan pekerja, yang mana bertujuan melindungi tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.

Dilihat dari data kecelakaan yang ada, menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan kerja yang berisiko tinggi terhadap kecelakaan, seperti terjatuh dari ketinggian, terkena peralatan tajam, tersengat listrik dan masih banyak potensi kecelakaan lainnya. Banyak penyebab kecelakaan kerja yang terjadi dalam pekerjaan konstruksi mengurangi keberhasilan proyek tersebut. Penyebab utama kecelakaan kerja adalah kurang optimalnya pelaksanaan K3 yang dikoordinir oleh Ahli K3 Umum atau bahkan ketidakadaannya Ahli K3 Umum tersebut, sedangkan penyebab dasar yang sesungguhnya adalah kurangnya komitmen pihak manajemen yang dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja seiring dengan kegiatan manajemen perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, menurut Santoso (2014) bahwa pelatihan dan implementasi K3 sangat penting untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja dan meminimalisir korban jiwa, serta meningkatkan produktifitas kerja karyawan karena usaha menyelamatkan kehidupan manusia juga merupakan tanggung jawab moral yang sangat mendasar dari semua pihak yang terkait, terlepas dari tingkat pemahamannya terhadap aturan, besar kecilnya skala proyek ataupun jenis posisi jabatan yang diembannya pada proyek konstruksi.

SMK3 merupakan sistem yang lebih bertanggung jawab dalam berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera beserta bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sistem manajemen ini juga merupakan suatu satuan elemen yang saling terkait yang digunakan untuk menetapkan kebijakan, sasaran dan pencapaian sasaran. Sasaran tersebut meliputi struktur organisasi, rencana aktifitas; termasuk analisa risiko dan penetapan obyektif, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumberdaya. SMK3 terdiri dari lima prinsip dasar acuan elemen yaitu kebijakan, perencanaan, penerapan dan operasi kegiatan, evaluasi atau pemeriksaan dan tinjauan manajemen atau usaha tindakan perbaikan.

Proyek konstruksi adalah satu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang mengelola sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Pada umumnya, proyek konstruksi diartikan sebagai proses pelaksanaan pembangunan fisik yang dilaksanakan oleh kontraktor. Padahal proyek konstruksi sebenarnyanya sudah dimulai sejak timbulnya gagasan atau ide dari pemilik proyek untuk membangun, yang kemudian proses selanjutnya akan melibatkan dan dipengaruhi oleh berbagai unsur seperti konsultan, kontraktor, konsultan pengawas dan termasuk pemiliknya sendiri. Proses pembangunan proyek kontruksi gedung pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan konstruksi ini merupakan penyumbang angka kecelakaan yang cukup tinggi (Ervianto 2015)

Harapan dari diterapkannya Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja ini adalah adanya peningkatan mutu dan kualitas dari sebuah keseluruhan rangkaian proyek konstruksi. Agar penerapan SMK3 dapat berjalan dengan baik dan benar sesuai peraturan yang ada, maka Ahli K3 Umum yang ditugaskan oleh perusahaan dalam proyek konstruksi wajib menguasai prinsip-prinsip SMK3 yang mana dapat diikutkan dalam Sertifikasi SMK3 untuk menjadi tenaga ahli spesialis terkait pelaksanaa proyek tersebut. Adapun Sertifikasi Auditor SMK3 dan Sertifikasi SMK3 perusahaan ini adalah bukti pengakuan tingkat pemenuhan penerapan peraturan perundangan SMK3. Proses Sertifikasi SMK3 suatu perusahaan dilakukan oleh badan audit independen melalui proses Audit SMK3. Sertifikat SMK3 diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Artikel ini disadur dari Jurnal Neo Teknika Volume 3 Nomor 1, Juni 2017, halaman 53 – 64 yang berjudul Studi Implementasi Sistem Manajemen K3 Pada Proyek Pembangunan Perumahan Nayara Residence Bukit Semarang Baru.

Pelatihan Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI Accelera Safety

Pelatihan Auditor SMK3 KEMNAKER RI Accelera Safety

.

Ahli Muda K3 Konstruksi BNSP Accelera Safety

Ahli Muda K3 Konstruksi BNSP Accelera Safety

 

error: Content is protected !!
WhatsApp chat